Zakat Payment Gateway (Pilih salah satu)

2 Virtual Account (Faspay)
4 FAQ

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar pembayaran Zakat di IZI, tanyakan kepada Zakat Advisor di 1500047

Jam Operasional

Sen-Jum 8:00 - 17:00
Sabtu & Ahad Tutup!
Kecuali Ramadhan
Buka tiap hari jam 8.00 - 18.00

Belajar Apa dari Grameen Bank?

Rabu, 21 Sep 2016 by | 398 visitor

YANG tidak akan dipelajari dan ditiru adalah ribanya. Itu aku sepakat. Tapi kenapa mereka harus menggunakan bunga itu yang harus diambil pelajaran pentingnya. Dan aku akan kembali soal itu di akhir tulisan ini in sya Allah.

Apa yang bisa diambil dari Grameen? Mereka menggunakan pinjaman bukan pemberian. Alasannya? Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank meyakini bahwa manusia dilahirkan untuk punya harga diri.

Dan memberi pinjaman menunjukkan bahwa mereka, orang-orang miskin itu punya harga diri. Mereka tidak butuh dikasihani. Mereka hanya butuh pinjaman. Mereka masih bisa mengembalikan. Mereka masih bisa berusaha.

Hal yang sama kudengar dari drh. Suparto asal Lamongan. Tokoh “Sarjana Membangun Desa” ini menolak tawaran mengelola dana zakat untuk pemberdayaan masyarakat miskin dari Pak Haryono, Kepala Cabang PKPU Surabaya periode 2013-2015. “Kalau dana hibah, pemberian, seperti zakat itu tidak mendidik. Mereka (orang miskin) tidak akan punya tanggung jawab”.

Menurutku dua pernyataan ini saling melengkapi. Orang miskin yang menjadi sasaran zakat itu bukan orang yang tidak bisa apa-apa. Mereka bisa bertahan hidup. Berarti sebenarnya mereka bisa berusaha. Hanya saja yang sering usaha mereka masih kecil karena modalnya kecil.

Atau mereka butuh latihan untuk lebih bertanggung jawab untuk diri dan usaha mereka sendiri. Dengan pinjaman hal itu bisa berjalan. Dan buktinya, di koperasi wanita yang menggunakan tanggung renteng, modal bergulir itu jalan dengan dipinjamkan bukan diberikan.

Selanjutnya, di Grameen Bank, Muhammad Yunus sering tidak sependapat dengan World Bank. Institusi yang sering mengucurkan dana bantuan bagi negara miskin dan berkembang ini menurut Yunus salah strategi dalam mengentaskan kemiskinan.

Karena dana yang dikucurkan selama ini seringkali hanya untuk pendirian infrastruktur dan pelatihan. Sementara dana yang benar-benar digunakan oleh orang miskin hanya sedikit. Tapi apa yang salah dengan membangun infrastruktur?

Ketika jalanan rusak diperbaiki maka arus barang dan jasa lebih lancar. Dengan demikian harga akan semakin murah dan mudah. Tapi bagi siapa murah dan mudah? Tentu saja bagi orang yang punya uang. Bagi orang miskin, dengan makin baiknya jalan, tanpa modal usaha, tidak akan banyak berubah. Sebaliknya, orang kaya akan lebih bisa menikmatinya.

Yang kedua. Bantuan World Bank yang besar, seringkali digunakan untuk pelatihan bagi orang miskin. Tapi apakah orang miskin benar-benar membutuhkannya? Atau kita, penyalur bantuan, yang menganggap bahwa mereka membutuhkannya?

Seringkali dana besar toh dibayarkan kembali kepada World Bank atau rekanannya untuk biaya pelatihan dan perlengkapannya. Lalu dana yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat miskin untuk memulai usaha atau memperbesar usahanya, hanya dapat porsi yang kecil.

Di Grameen Bank tidak ada pelatihan baca tulis. Meski sebagian pelanggannya buta aksara. Mereka, para pelanggan Grameen, bisa mengajukan pelatihan baca tulis bila mereka menginginkannya. Begitu juga dengan pelatihan lainnya. Berbagai macam pelatihan bisa dilakukan asalkan pesertanya memang menginginkan dan membutuhkan.

Jadi Grameen Bank berhasil karena mereka menghargai harga diri orang miskin. Selain itu, dengan pinjaman yang mereka berikan dan sistem saling menanggungnya, mereka juga mengajarkan tanggung jawab kepada sesama orang miskin.

Kedua, mereka menggunakan sebagian besar dana untuk orang-orang miskin. Sedangkan untuk tambahan keahlian atau wawasan bisa mereka dapatkan bila mereka benar-benar membutuhkan dan menginginkannya yang akan diberikan Grameen Bank dengan gratis.

Dan ketiga, kembali ke paragraf pertama, kenapa mereka menggunakan bunga? Alasannya adalah karena ini adalah social business. Seperti yang dilakukan oleh Grameen dan Danone di Bangladesh.

Menghadapi kelaparan dan kurang gizi bagi anak, Grameen mengajak Danone mendirikan pabrik yoghurt di Bangladesh. Yoghurt yang dihasilkan akan dijual sangat murah hingga bisa dijangkau orang miskin. Bagaimana bisa murah? Karena tidak ada biaya promosi, iklan bahkan label merek.

Tapi yoghurt tetap dijual bukan diberikan, karena pabrik butuh menggaji karyawan, membayar air dan listrik, merawat gedung, dan membayar modal dari Danone. Bila modal awal sudah dibayar lunas, Danone tidak boleh dapat uang dari pabrik ini.

Selanjutnya pabrik akan tetap berjalan untuk memproduksi yoghurt yang bermanfaat menanggulangi gizi buruk. Dengan harga murah dan tetap menguntungkan, gizi buruk bisa ditangani.

Itu juga yang diterapkan di Grameen Bank. Bank harus meminjamkan modal kepada orang miskin, ini misi sosial. Tapi di saat yang sama, bank juga harus tetap untung agar bisa membayar gaji karyawannya. Untuk itu ada bunga. Tapi bila bunga untuk gaji karyawan ini bisa diganti dengan dana zakat, apa yang tidak bisa. Wallahu a'lam. (Muhammad Azwar Anas, IZI Jawa Timur) 


KOMENTAR

Tinggalkan Pesan

Sign In untuk mendapatkan benefit dengan menjadi member IZI

Lupa Info Akun Anda?

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

TOP