Zakat Payment Gateway (Pilih salah satu)

2 Virtual Account (Faspay)
4 FAQ

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar pembayaran Zakat di IZI, tanyakan kepada Zakat Advisor di 1500047

Jam Operasional

Sen-Jum 8:00 - 17:00
Sabtu & Ahad Tutup!
Kecuali Ramadhan
Buka tiap hari jam 8.00 - 18.00

Oleh: Winarni, S.Si, M.Si *)


Nama Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soeryaningrat diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Setiap tanggal 2 Mei, instansi-instasi pendidikan menyelenggarakan upacara bendera untuk memperingatinya.

Ki Hadjar Dewantara berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta dan memiliki nama kecil Raden Mas Soewardi Soeryaningrat pada 2 Mei 1889. Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya.

Saat berusia 40 tahun, beliau memutuskan berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, gelar kebangsawanan ia tidak lagi digunakannya supaya dapat lebih dekat dengan rakyat.

Beliau pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Melalui tulisan-tulisannya, beliau aktif membangkitkan semangat antikolonial. Pada zamannya, beliau termasuk penulis handal.

Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam, patriotik, terkadang keras sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Beliau juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, termasuk aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu tentang pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Bersama Douwes Dekker (Dr Danudirdja Setyabudhi) dan dr Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hajar Dewantara mendirikan Indische Partij yaitu partai politik pertama yang beraliran nasionalisme pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda.

Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij, Ki Hajar Dewantara pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda.

Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik keras terhadap Pemerintah Belanda yang saat itu bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Terkait dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan tersebut dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker.

Tulisan tersebut menyulut kemarahan pemerintah kolonial Belanda. Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang atau diasingkan). Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil.

Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada di daerah terpencil.

Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.

Tahun 1918 Ki Hajar Dewantara kembali ke tanah air. Di tanah air beliau mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922.

Pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusian. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan perjuangan beliau beserta rekan-rekannya, ordonansi itu akhirnya dicabut. Sembari mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, beliau juga tetap rajin menulis.

Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Sementara itu, pada zaman pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan KH Mas Mansur.

*) Winarni, S.Si, M.Si - Dosen Institut Teknologi Kalimantan - Mitra donatur IZI Kaltim


KOMENTAR

Tinggalkan Pesan

Sign In untuk mendapatkan benefit dengan menjadi member IZI

Lupa Info Akun Anda?

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

TOP