Zakat Payment Gateway (Pilih salah satu)

2 Virtual Account (Faspay)
4 FAQ

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar pembayaran Zakat di IZI, tanyakan kepada Zakat Advisor di 1500047

Jam Operasional

Sen-Jum 8:00 - 17:00
Sabtu & Ahad Tutup!
Kecuali Ramadhan
Buka tiap hari jam 8.00 - 18.00

Oleh: Winarni, S.Si, M.Si *)

Setelah zaman kemedekaan, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Di balik semua perjuangan Ki Hajar Dewantara, apa saja ajaran-ajaran/konsep/metode dari beliau. Ada beberapa ajaran yang dikenal dari Ki Hajar Dewantara.

Antara lain konsep beliau dalam pengajaran dan pendidikan yang dikenal dengan Metode Among (momong, among, ngemong) yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh, membina dan mendidik dengan kasih sayang - care and education with love.

Hal ini berkiblat dengan ajaran Muhammad Rosulullah, yang menyampaikan risalah dengan hati, dengan cinta. Terlihat hingga menjelang wafat yang disebut-sebut dan dikhawatirkannya adalah ummatnya (ibaratnya peserta didiknya bahkan beserta keturunannya). Yang dari hati akan sampai ke hati. Bagaimana pendidik di negeri ini saat ini. Seberapa porsi peserta didik kita di hati kita.

Sebagus apapun secanggih apapun teknologi pengajaran yang dipakai tidak akan mengena jika tidak dibungkus dengan sentuhan hati. Mendidik juga perlu secara holistik, tidak hanya otak tetapi hati dan fisiknya juga - educate the head, the heart, and the hand.  Hal ini dikenal dengan konsep Trisakti Jiwa yang terdiri dari cipta, rasa, dan karsa.

Untuk melaksanakan segala sesuatu maka harus ada kombinasi yang sinergis antara hasil olah pikir, hasil olah rasa, serta motivasi yang kuat di dalam dirinya Kognitif, Afektif dan Psikomotornya semua harus disentuh. Sehingga mampu menjadi manusia yang berkembang secara utuh, tidak parsial.

Konsep kepemimpinan dari Ki Hajar Dewantara yaitu Trilogi Kepemimpinan yang terkenal dengan Ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Ini salah satu kuncinya, sebagai pemimpin harus bisa memberi contoh yang baik.

Tetapi kenyataannya, anak bangsa ini banyak sekali dihadapkan dengan banyak sekali kontradiksi. Misalnya di sekolah diajarkan tidak boleh berkelahi tetapi di televisi sering dia lihat berita di TV tentang pertikaian dan perkelahian antara anggota dewan dalam rapat paripurna.

Di sekolah diajarkan harus bersikap adil, tetapi sering melihat realita hukum timpang sebelah, tajam bagi rakyat yang di bawah tapi tumpul pada penguasa. Lihat saja yang jelas-jelas salah tidak dipidanakan. Yang tidak salah dicari-carikan salahnya untuk dipidankan. Masih banyak contoh lainnya.

Adapun dalam upaya kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan teori Trikon, yaitu kontinuitas, konvergensi dan konsentris. Kontinuitas yang berarti bahwa garis hidup kita sekarang harus merupakan lanjutan dari kehidupan kita pada zaman lampau berikut penguasaan unsur tiruan dari kehidupan dan kebudayaan bangsa lain.

Konvergensi yaitu berarti kita harus menghindari hidup menyendiri, terisolasi dan mampu menuju ke arah pertemuan antar bangsa dan komunikasi antar negara menuju kemakmuran bersama atas dasar saling menghormati, persamaan hak, dan kemerdekaan masing-masing. Adapun konsentris berarti setelah kita bersatu dan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, kita jangan kehilangan kepribadian sendiri.

Konsepsi kebudayaan Ki Hajar yang sangat moralis tertuang dalam ”Konsep Tripantang” yang terdiri dari pantang harta, praja/tahta, dan wanita. Pantang harta maksudnya, kita dilarang menggunakan harta orang lain secara tidak benar seperti korupsi dan mencuri.

Pantang praja/tahta artinya pantang menyalakangunakan jabatan misalnya kolusi, dan nepotisme. Pantang wanita maksudnya bermain wanita misalnya berselingkuh baik dalam hati apalagi dengan perbuatan. Jika hal tersebut dilanggar akan menyebabkan masalah-masalah lainnya. Salah satu saja dilanggar pasti kacau.

Beliau juga mewariskan ajaran-ajaran karakter dan budaya yaitu Trirahayu, yang terdiri dari mamayu hayuning sarira, mamayu hayuning bangsa, dan mamayu hayuning bawana

Maksudnya, apapun yang diperbuat oleh seseorang itu hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsa, dan bermanfaat bagi manusia pada umumnya. Nah ini, penting. Seandainya setiap manusia Indonesia paham dan melaksanakan konsep ini, beres semua masalah di negeri ini.

Dewasa ini didengung-dengungkan pendidikan karakter, pendidikan berbasis nilai-nilai budaya yang luhur. Sebenarnya itu sebuah gagasan yang tidak perlu lagi digagas tetapi tinggal diaplikasikan karena sejatinya pendidikan karakter bukan sesuatu yang baru.

Kata kuncinya adalah pada keteladanan dan hati para pendidik. Tidak hanya guru dan dosen, sejatinya kita semua adalah pendidik, minimal bagi anak-anak kita. Adapun muara pendidikan adalah tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jadi, tujuannya utamanya adalah mendewasakan manusia.

Bagaimana dengan hasil pendidikan di negeri ini, apakah sudah demikian? Tidak jarang bahkan yang sudah lulus sarjana, untuk mendapatkan pekerjaan saja masih meminta bantuan orang tuanya dengan tujuan dapat jalur khusus. Ini contoh bahwa pendidikan yang ditempuhnya belum mampu mendewasakannya.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Ini semua adalah tugas kita bersama, baik pemangku kebijakan/pemerintah, instansi-instansi pendidikan, masyarakat terlebih lagi keluarga sebai satuan pendidikan pertama dan utama.

*)Winarni, S.Si, M.Si- Dosen Institut Teknologi Kalimantan - Mitra donatur IZI Kaltim


KOMENTAR

Tinggalkan Pesan

Sign In untuk mendapatkan benefit dengan menjadi member IZI

Lupa Info Akun Anda?

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

TOP