Zakat Payment Gateway (Pilih salah satu)

2 Virtual Account (Faspay)
4 FAQ

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar pembayaran Zakat di IZI, tanyakan kepada Zakat Advisor di 1500047

Jam Operasional

Sen-Jum 8:00 - 17:00
Sabtu & Ahad Tutup!
Kecuali Ramadhan
Buka tiap hari jam 8.00 - 18.00

Istiqomah, Jalan Meraih Kemenangan

Sabtu, 25 Mar 2017 by | 403 visitor

Seorang santri lulusan pesantren mendapatkan amanah untuk berdakwah menyebarkan ajaran tauhid di daerah pedalaman suku terasing yang masih menganut animisme dan keyakinan lokal. Sudah menjadi kelaziman baginya untuk senantiasa menanamkan pesan moral yang bernama ‘istiqomah’ kepada dirinya dan kepada saudara-saudara barunya dalam ajaran tauhid.

Beliau tetap komitmen dan sabar membina masyarakat yang menjadi objek dakwahnya, sampai Allah SWT memanggilnya untuk ‘menghadapNya’. Seorang ustadz dengan semangat dakwah yang tinggi, alumni salah satu universitas terkemuka di Jazirah Arabia, mewakafkan dirinya hidup di jantung sebuah kota megapolitan, salah satu negara bagian Amerika. Mayoritas penduduknya non muslim, sebagian besar agnostic.

Dengan penuh kesabaran dan optimisme beliau membimbing para mualaf multiras binaannya untuk senantiasa ber ‘istiqomah’ menjalankan keyakinan barunya (Islam), walaupun gelombang anti Islam pasca tragedi WTC tidak pernah berhenti. Terkini, masyarakat Amerika yang multiras diterpa kekhawatiran gelombang besar Islamophobia pasca kemenangan seorang pemimpin yang juga dikenal anti imigran.

Sang Ustadz tidak bergeming. Bahkan seruan dakwahnya yang membawa pesan universal mendapatkan dukungan dari masyarakat multiras dan multireligion disana. Pesan yang sama, selama ribuan tahun yang lalu pernah disampaikan oleh seorang murabbi terbaik dan manusia teladan, baginda Nabi SAW kepada seorang sahabatnya Sofyan bin Abdillah Ats Tsaqofi: ”Katakanlah, aku beriman kepada Allah. Kemudian hendaklah engkau beristiqomah!”(HR Muslim)

Firman Allah SWT: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga)orang yang bertaubat bersamamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud:112)

Imam Ibnu Katsir dalam karyanya ‘Tafsir Al Qur’anil Adzim’ menjelaskan tafsir surat Hud ayat 112 yang menyebutkan urgensi dan keutamaan istiqomah. Perintah Allah SWT ditujukan kepada Rasul-Nya serta umat Islam secara umum agar tetap komitmen dan senantiasa teguh konsisten dalam menjalankan agama-Nya.

Allah SWT meminta hamba-hambaNya menjaga syiar dan ajaran agama. Sikap dan prinsip seperti ini (istiqomah) yang kelak akan menjadi faktor dan sebab utama umat Islam meraih kemenangan menghadapi segala bentuk peperangan dan tipu daya oleh musuh-musuh Allah SWT.

Istiqomah adalah faktor terbesar meraih kemenangan dan pertolongan dari Dzat Pemilik Kemuliaan. Istiqomah itu beban yang sangat berat, hanya mereka yang kuat dan sabar yang mampu memikulnya. Bilal bin Rabah beserta sahabat-sahabat dari golongan mustadh’afiin adalah hamba-hambaNya yang kuat secara mental spiritual. Mereka mempunyai kekuatan yang melebihi kekuatan para pembesar Quraisy majikannya sekalipun.

Mereka memenangkan sebuah peperangan tanpa pertempuran yang melibatkan banyak orang. Bilal telah ‘menang’ menghadapi bekas tuannya, Umayyah bin Khallaf. Umayyah dipermalukan oleh budaknya dihadapan kaumnya sendiri. Dia gagal membujuk budaknya, walaupun untuk sekedar ‘pura-pura’ kafir dari ajaran Muhammad SAW.

Sumayyah dan Yasir juga menang ketika intimidasi bekas sekutunya, Abu Jahal menemui jalan buntu. Sehingga satu-satunya jalan pintas yang diambil Abu Jahal untuk menyelamatkan wibawa dihadapan kaumnya adalah membunuh Sumayyah melalui siksaan sadis tanpa perikemanusiaan. Yasir, Sang suami dan Ammar sang putra hanya bisa merintih dan berdoa untuk jiwa istiqomah sang bunda.

Abu Jahal menyeringai merasa inilah sebuah kemenangan atas orang-orang yang membangkang dan melawan tatanan idiologi bangsa Quraisy. Sesungguhnya, inilah kemenangan terindah dari seorang Sumayyah dalam mempertahankan aqidahnya, Allah SWT mengangkatnya jiwa istiqomahnya sebagai syahidah pertama dalam Islam.

Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib telah mewakili golongan sahabat yang arif dan bijaksana memegang amanah umat dan terkenal keistiqomahannya selama mengemban jabatan khalifah.

Tinta sejarah mencatat, pada masa-masa pemerintahan Khulafa al Rasyidah agama Allah berkembang dengan sangat cepat. Umat Islam mengalahkan dua pemerintahan adidaya di barat dan timur dunia, Romawi dan Persia. Hal ini karena pertolonganNya senantiasa menyertai para pemimpin dan umat Islam di masa itu.

Istiqomah Membela Agama Allah

Istiqomah berasal dari kata dasar bahasa arab ‘qoma/qowama’ yang bermakna berdiri atau melaksanakan. Kemudian mendapatkan tambahan tiga huruf, alif, sin dan ta. Dalam ilmu sharf (ilmu pola dan kondisi kalimat bahasa arab) penambahan tiga huruf terhadap kata dasar ini memberikan makna ‘tholabul fi’li’ (meminta suatu perbuatan). Maka, istiqomah adalah memohon untuk tetap tegak berdiri dan konsisten. Dalam hal ini memohon konsisten dalam ketaatan kepada Allah SWT.  

Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata:”Tuhan Kami adalah Allah.” Kemudian mereka meneguhkan pendiriannya, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati. Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS Fushilaat: 30).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan kembali tentang maksud istiqomah dalam ayat diatas. Beliau memberikan penjelasan bahwa orang-orang yang istiqomah adalah mereka yang mengikhlaskan amalannya semata-mata karena Allah SWT serta melaksanakan ketaatan sesuai dengan syariat Allah Azza wa Jalla.

Betapa bahagianya orang-orang yang tetap tegak dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah SWT, karena menurut maksud ayat tersebut para malaikat akan turun menuju hamba-hambaNya yang istiqomah tatkala ajal menjemput mereka, ketika mereka berada di dalam kubur dan ketika masa dibangkitkan setelah kematiannya.

Malaikat-malaikat ini senantiasa menghibur dan memberikan rasa aman tatkala kematian akan menjemput dan menghilangkan rasa sedih dari jiwanya akibat berpisah dengan ahli keluarganya. Karena Allah SWT adalah pengganti dari rasa takut dan gundah gulana tersebut. Bahkan tidak cukup sampai disitu, kabar gembirapun kembali menghampiri secara bertubi-tubi.

Mulai dari ampunan atas segala dosa yang diperbuatnya selama di dunia, diterimanya amal-amal selama kehidupan di dunia serta kabar gembira tentang ‘hadiah’ surga yang belum pernah dilihat(keindahan)nya oleh mata, belum pernah didengar (kehebatan)nya oleh telinga bahkan belum pernah sedikitpun terlintas dalam hatinya. Wallahu a’lam.

*) KH Didi Muhammad Turmudzi, Lc., MA | Korps Dai Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Mudir Pondok Pesantren Ibadurrohman, TSM


KOMENTAR

Tinggalkan Pesan

Sign In untuk mendapatkan benefit dengan menjadi member IZI

Lupa Info Akun Anda?

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

TOP