Zakat Payment Gateway (Pilih salah satu)

2 Virtual Account (Faspay)
4 FAQ

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar pembayaran Zakat di IZI, tanyakan kepada Zakat Advisor di 1500047

Jam Operasional

Sen-Jum 8:00 - 17:00
Sabtu & Ahad Tutup!
Kecuali Ramadhan
Buka tiap hari jam 8.00 - 18.00

Membangun Tim Handal Dengan Kebaikan Berlimpah

Selasa, 20 Des 2016 by | 1399 visitor

HARAPAN indah sulit menjadi realita hanya melalui tindakan satu orang. Kepemimpinan adalah usaha bersama dalam tim. Ini suatu aksioma yang telah dipahami dengan baik oleh pemimpin di setiap masa, di setiap tempat. Tantangannya adalah bagaimana membangun tim yang handal.

Dalam studi yang cukup lawas namun tetap relevan, Jodi Taylor (1998) menguji variabel kritis kesuksesan pada organisasi berskala besar dan menemukan faktor utamanya adalah “hubungan dengan anak buah”.

Bahkan dalam dunia yang serba cepat opini tersebut tetap konsisten dengan fakta. Dalam sebuah survei online yang dilakukan oleh Fast Company, responden diminta untuk mengindikasikan hal yang paling penting bagi kesuksesan di masa depan, 72% memilih keahlian sosial, 28% memilih keahlian teknis internet.

Kouzes dan Posner - dua orang pakar kepemimpinan - melalui riset yang panjang, sampailah pada kesimpulan yang sangat penting: kepemimpinan adalah suatu hubungan. Kepemimpinan merupakan hubungan antara mereka yang terpanggil untuk memimpin dan mereka yang memilih untuk mengikuti. Kesuksesan dalam kepemimpinan telah, sedang dan akan terus menjadi sebuah ukuran dari seberapa baik orang bekerja dan bermain bersama Anda.

Dengan tugas maha berat di pundaknya, Rasulullah SAW sebagai seorang pemimpin pasti sangat menyadari kebutuhan tim yang sangat handal untuk menopang misi kepemimpinannya. Atas bimbingan wahyu, kita melihat betapa tekun dan lihainya Beliau SAW membangun pola hubungan tim yang sungguh-sungguh sebagai wujud kepemimpinan yang otentik. 

Rasulullah adalah orang yang paling peka perasaannya, mudah tersentuh, belum pernah ada orang yang bertanya sesuatu kecuali beliau mendengarkannya dan tidak meninggalkannya sampai dia sendiri yang pergi meninggalkan Rasulullah. Dan belum pernah bersalaman kecuali beliau yang lebih dulu bersalaman dan tidak melepaskannya sebelum orang lain melepaskan tangannya.”(HR Abu Nua’im)

Pola hubungan yang tidak hanya berhenti pada retorika dan jargon yang indah, namun terwujud konkrit dalam khidmat bagi anggota tim yang seringkali menuntut pengorbanan dan ketulusan tidak berbatas. “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kalau diminta oleh sesama tidak pernah menolak atau mengatakan tidak.”(HR Bukhari)

Sahal bin Sa’ad meriwayatkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah sambil membawa sebuah kain bersulam yang indah dan bagus. Wanita itu berkata, “Aku menyulamnya sendiri dengan tanganku. Pakailah ini ya Rasulullah.” Nabi Muhammad pun menerimanya dengan senang hati dan penuh terima kasih seakan-akan beliau sangat membutuhkannya.

Kemudian ketika suatu saat beliau memakainya, datanglah seseorang dan berkata, “Berikanlah sarung itu padaku wahai Rasulullah, betapa indahnya!” Rasulullah berkata, “Ya.” Kemudian beliau pulang untuk merapikan dan melipatkan kain itu. Lalu beliau datang kembali dan memberikannya kepada orang tersebut. Orang-orang berkata ketus dengan nada menyesali perbuatan orang tersebut, “Engkau meminta apa yang telah dipakai Rasulullah. Kita tahu Rasulullah tidak akan menolak permintaanmu.” Lalu orang itu berkata, “Demi Allah, aku memintanya bukan untuk aku pakai, tetapi akan aku jadikan sebagai kain kafanku nanti apabila aku meninggal dunia.” Sahal berkata, “Dan benar, setelah orang itu meninggal, dia dikafani dengan kain tersebut.” (HR Bukhari)

Bahkan ketika anggota tim-nya itu seseorang yang berada di level ‘office boy atau cleaning service’ dalam istilah yang dikenal zaman sekarang, Rasulullah SAW berupaya membangun pola hubungan yang tinggi dan mulia.

“Aku (Anas bin Malik) pernah menjadi pembantu Rasulullah SAW selama 10 tahun. Beliau sama sekali tidak pernah mengatakan kepadaku, ‘Ah!’. Tidak pernah pula beliau mengomentari sesuatu yang aku kerjakan, ‘Mengapa kamu mengerjakannya?’ atau mengomentari sesuatu yang tidak aku kerjakan, ‘Mengapa kamu tidak mengerjakannya?'” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dari hal-hal kecil yang sering kali tidak diperhatikan oleh seorang pemimpin yang super sibuk, padahal itu penting dalam membangun hubungan positif dengan tim:

Jarir bin Abdullah berkata, “Belum pernah aku melihat Rasulullah atau Rasulullah melihatku sejak aku masuk Islam, kecuali beliau dalam keadaan tersenyum.”(HR Bukhari)  

Belum pernah aku menemukan orang yang paling banyak tersenyum seperti Rasulullah.”(HR Tirmidzi)

Buah dari semua upaya melelahkan dan tidak pernah putus itu, terbentuklah sebuah tim handal dengan loyalitas tidak terbayangkan seperti dituturkan dalam buku-buku sejarah

Urwah bin Mas’ud pernah menghadap nabi sebagai duta bangsa Kafir Quraisy pada abad ke-6 H. Ia terpana melihat orang-orang Islam tidak membiarkan satu tetes pun bekas air wudhu Nabi jatuh ke tanah. Mereka menampung bekas air wudhu beliau dengan kedua belah tangan mereka dan membasuhkannya ke tubuh mereka. Mereka berebut satu dengan lainnya.

Dari perspektif ini menjadi dapat dimengerti, kegemilangan pencapaian dari misi kepemimpinan Rasulullah SAW, secara lahiriah adalah buah dari kinerja tim yang hebat. Tim handal yang hanya dapat dibeli dengan kerja keras, ketekunan, pengorbanan, dan ketulusan seorang pemimpin dalam memberikan kebaikan yang berlimpah kepada para pengikutnya. 

*) Wildhan Dewayana, ST, M.Led – Direktur Utama Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)


KOMENTAR

Tinggalkan Pesan

Sign In untuk mendapatkan benefit dengan menjadi member IZI

Lupa Info Akun Anda?

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

TOP