Zakat Payment Gateway (Pilih salah satu)

2 Virtual Account (Faspay)
4 FAQ

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar pembayaran Zakat di IZI, tanyakan kepada Zakat Advisor di 1500047

Jam Operasional

Sen-Jum 8:00 - 17:00
Sabtu & Ahad Tutup!
Kecuali Ramadhan
Buka tiap hari jam 8.00 - 18.00

Saleh Sosial Indikator Muslim Sejati

Kamis, 16 Mar 2017 by | 525 visitor

Islam adalah agama komprehensif dan integral. Ajarannya menyentuh seluruh sisi kehidupan, baik sisi hubungan kepada Allah SWT (Hablumminallah) maupun hubungan antar sesama makhluk (Hablumminannas).

Seorang Muslim sejati akan berupaya komitmen dengan ajaran Islam dalam pelbagai sisi kehidupannya, baik yang menyangkut hubungan kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia.

Dengan begitu, ia telah berupaya untuk menjadikan seluruh sisi kehidupannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, karena makna ibadah adalah seluruh perkara yang dicintai dan diridhai Allah SWT baik berupa perkataan maupun perbuatan yang nampak maupun tersembunyi.

Konsekuensi dari ajaran Islam yang komprehensif ini mendorong setiap muslim untuk berupaya komitmen dalam menghadirkan nilai-nilai Islami dalam aktifitas kehidupannya, tidak hanya dalam aktifitas hubungan kepada Allah SWT berupa shalat, puasa dan seterusnya, tetapi juga dalam hubungan di tengah masyarakat seperti aktifitas ekonomi, politik, sosial dan sebagainya.

Allah SWT mengecam sikap dan pemahaman parsial yang keliru karena hanya mengindahkan sebagian ajaran dan meninggalkan sebagian yang lain, sebagaimana tercantum dalam ayat:

 “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (QS Al Baqarah: 85).

Diantara sisi yang diatur oleh Islam adalah sisi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Islam memerintahkan untuk berperilaku sosial dengan baik dan melarang perbuatan yang bisa merusak tatanan sosial tersebut.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik”. (QS Al Hujuraat: 11).

Dalam menggambarkan sifat seorang mukmin yang beruntung, akhlak sosial menjadi kriteria sebagaimana dipahamai dari ayat: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas, dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya”. (QS Al Mukminun: 1-9).

Lebih tegas, Rasulullah SAW menjelaskan kriteria saleh sosial sebagai ukuran kesempurnaan iman seseorang dalam sabdanya: “Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah siapa yang paling baik akhlaknya”. (HR Abu Dawud).

Itulah korelasi antara iman dan akhlak yang bisa dipahami dari hadits di atas. Iman tidak bisa dipisahkan dari akhlak, karena akhlak merupakan indikator baiknya keimanan seseorang. Seorang mukmin yang sejati mesti memiliki akhlak yang baik, dan karena semakin baik akhlak seseorang itu pertanda semakin baik keimanannya.

Dalam beberapa hadits Rasulullah SAW juga menerangkan korelasi antara ibadah dan akhlak yang merupakan bentuk kesalehan sosial seseorang. Salah satu indikator baiknya ibadah kepada Allah SWT adalah akhlak sosial.

Ibadah dalam bentuk hubungan kepada Allah SWT yang baik sejatinya memiliki dampak positif terhadap prilaku sosial seseorang. Begitu sebaliknya, prilaku sosial yang buruk pertanda ibadah yang dilakukan belum baik. Hal itu dapat dipahami dari sabda Rasulullah SAW tentang pengaruh ibadah shalat dan puasa dalam dua hadits berikut.

Pertama tentang shalat, diriwayatkan dari Ali bin Ma’bad ra, “Siapa yang sholatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka ia hanya bertambah jauh dari Allah”.

Kedua, tentang puasa yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah SWT. tidak berkepentingan atas puasanya dari makanan dan minuman”.  Wallahua’lam

*) Ahmad Yani, Lc, MA | Korps Dai Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)


KOMENTAR

Tinggalkan Pesan

Sign In untuk mendapatkan benefit dengan menjadi member IZI

Lupa Info Akun Anda?

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

Silahkan masukan alamat email, untuk mendownload dokumen

TOP