Jakarta (6/8/10) – Selama bertahun-tahun, mengayuh becak adalah cara Sopan menghidupi keluarganya. Di balik usianya yang tak lagi muda, lelaki berusia 65 tahun asal Cirebon yang kini menetap di Bandar Lampung itu tetap bekerja keras demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang ia cintai. Baginya, lelah bukanlah alasan untuk berhenti, selama keluarganya masih bisa makan dan menjalani kehidupan dengan layak. Namun, hidup membawa ujian yang tak pernah ia bayangkan.
Pada September 2025, muncul benjolan kecil di tubuh Sopan. Ukurannya saat itu hanya sebesar telur puyuh sehingga ia mengira itu hanyalah bengkak biasa. Ia mencoba mengobatinya dengan berbagai minyak dan memilih untuk tidak mengonsumsi obat. Akan tetapi, dua bulan kemudian benjolan tersebut terus membesar hingga seukuran telur ayam. Rasa nyeri yang awalnya datang sesekali mulai terasa semakin berat dan mengganggu aktivitasnya. Sopan kemudian menjalani pengobatan dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas lainnya. Berbagai pemeriksaan, mulai dari rontgen, CT Scan, MRI, hingga biopsi, akhirnya mengantarkan pada sebuah diagnosis yang begitu berat. Dokter menyatakan bahwa Sopan menderita kanker ganas dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sejak 15 Desember 2025, perjuangan panjang itu dimulai. Sopan menjalani serangkaian pemeriksaan dan enam kali kemoterapi yang dimulai pada Maret 2026. Meski kemoterapi membantu mengurangi rasa nyeri, ukuran tumor belum menunjukkan penyusutan yang diharapkan. Setelah menjalani biopsi, rasa sakit yang ia rasakan justru semakin hebat. Siang maupun malam, Sopan kerap menahan nyeri hingga tak kuasa menahan tangis. Di tengah perjuangan itu, keluarga kembali dihadapkan pada kenyataan yang tidak mudah diterima. Setelah enam kali kemoterapi, dokter menyampaikan bahwa tindakan operasi perlu dilakukan. Namun, operasi yang dimaksud bukan sekadar mengangkat tumor. Amputasi menjadi pilihan medis yang dinilai paling memungkinkan untuk menyelamatkan kondisinya.
Kabar tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga. Anak bungsunya yang masih berusia 17 tahun tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Ia membayangkan ayahnya, sosok yang selama ini bekerja sebagai tukang becak demi keluarga, mungkin tidak lagi dapat mencari nafkah seperti dahulu. Perjuangan keluarga tidak berhenti pada proses pengobatan. Keterbatasan ekonomi membuat mereka sempat tinggal di ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena belum memiliki tempat untuk beristirahat selama mendampingi Sopan di Jakarta. Hingga akhirnya, atas informasi dari sesama pendamping pasien, mereka mengenal Rumah Singgah Pasien IZI Jakarta.

Sejak saat itu, Rumah Singgah Pasien IZI menjadi tempat bernaung bagi Sopan, istrinya, Satini, dan putrinya, Cika. Di tempat inilah mereka dapat beristirahat dengan lebih layak sambil menunggu proses pengobatan dan jadwal operasi. Kehadiran rumah singgah tidak hanya memberikan tempat tinggal sementara, tetapi juga menghadirkan ketenangan dan dukungan di tengah masa-masa yang penuh ketidakpastian. Kini, sudah sekitar tiga bulan Sopan menjalani hari-harinya di Rumah Singgah Pasien IZI. Meski amputasi bukanlah keputusan yang mudah, keluarga berusaha menerima apa pun jalan terbaik yang telah Allah SWT tetapkan.
“Kalau memang ini jalannya dan ini yang terbaik, tidak apa-apa. Insya Allah sekeluarga menerima.” Kalimat itu bukan tanda menyerah, melainkan wujud keikhlasan seorang ayah dan keluarganya yang memilih tetap berharap di tengah ujian yang berat. Di balik rasa sakit, hilangnya kemampuan untuk bekerja, dan panjangnya proses pengobatan, Sopan masih menyimpan harapan yang sederhana. Ia ingin melewati semua ini, kembali berkumpul bersama keluarganya, dan menikmati hari-hari yang masih Allah SWT anugerahkan bersama orang-orang yang ia cintai.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada Sopan dan keluarga, memudahkan setiap ikhtiar pengobatan yang dijalani, mengangkat penyakitnya, serta menghadirkan kesembuhan terbaik. Semoga setiap kebaikan para donatur yang turut menjadi bagian dari perjuangan ini dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, kesehatan, keberkahan rezeki, dan kemudahan dalam setiap urusan. Aamiin.
[Risti – @inisiatifzakat_jakarta]
Selengkapnya mengenai program Rumah Singgah Pasien IZI:




