Di Balik Jantung yang Terluka, Ada Hati yang Tak Pernah Berhenti Bersyukur

Jakarta – “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6). Tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada luka yang bersembunyi di balik senyum seorang ibu, ada pula tangis yang sengaja disembunyikan agar anak-anaknya tetap merasa dunia ini baik-baik saja. Begitulah kisah Sutina (39), seorang ibu asal Kalimantan Barat yang kini tengah berjuang melawan penyakit jantung. Di balik tubuhnya yang masih menjalani terapi pascaoperasi, tersimpan keteguhan seorang ibu yang tak pernah berhenti berharap agar dapat kembali pulang dan memeluk keempat buah hatinya.

Sutina hidup sederhana bersama suaminya, Rohli, yang bekerja sebagai tukang bangunan dengan penghasilan tidak menentu. Mereka dikaruniai empat orang anak, mulai dari yang telah duduk di bangku SMA hingga si bungsu yang baru berusia enam bulan. Keluarga kecil ini tinggal di rumah sederhana milik mereka sendiri. Meski hidup jauh dari kemewahan, rumah itu selalu dipenuhi kasih sayang dan rasa syukur. Sebelum sakit, Sutina turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai buruh cuci. Sejak pagi hingga sore, tangannya tak pernah berhenti mengucek pakaian milik tetangga dan warga sekitar. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu berat selama anak-anaknya dapat makan dengan cukup dan tetap bersekolah. Sementara itu, Rohli bekerja keras sebagai tukang bangunan demi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Apa pun yang mereka peroleh setiap hari selalu diupayakan untuk masa depan anak-anak mereka.

Namun, beberapa bulan lalu, tubuh yang selama ini begitu kuat mulai memberi isyarat. Sutina sering mengalami pusing, sesak napas, tubuh lemas, bahkan berbicara pun terasa begitu berat. Awalnya ia mengira semua itu hanyalah kelelahan akibat bekerja. Akan tetapi, kondisi tersebut justru semakin memburuk hingga akhirnya ia tidak lagi mampu menjalani aktivitas seperti biasanya. Pemeriksaan demi pemeriksaan akhirnya membawa kabar yang mengubah kehidupan keluarga kecil ini. Dokter menyatakan bahwa Sutina menderita penyakit jantung dan harus menjalani operasi serta terapi lanjutan di Jakarta. Kabar itu bukan hanya mengguncang dirinya, tetapi juga seluruh keluarganya. Di saat seorang ibu seharusnya mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya, ia justru harus berpisah dengan mereka demi memperjuangkan kesempatan untuk sembuh.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat itulah yang menjadi penguat langkah  Sutina dan keluarganya dalam menghadapi ujian ini.

Perjalanan menuju Jakarta bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menguras kemampuan ekonomi keluarga. Mereka harus menanggung utang sekitar Rp20 juta untuk memenuhi kebutuhan pengobatan dan biaya hidup anak-anak yang masih bersekolah. Keempat anak mereka dititipkan kepada orang tua di kampung halaman, sementara Rohli harus membagi waktu antara mencari nafkah sebagai tukang bangunan dan mendampingi sang istri selama menjalani pengobatan. Di tengah segala keterbatasan, cinta menjadi alasan mereka untuk terus bertahan.

Bagi Sutina, pengorbanan yang paling berat bukanlah rasa sakit akibat penyakit yang dideritanya, melainkan harus meninggalkan anak bungsunya yang masih berusia enam bulan. Tidak ada seorang ibu yang rela berpisah dengan bayinya. Kerinduan itu hanya dapat ia titipkan dalam setiap doa. Harapan terbesarnya begitu sederhana, semoga Allah SWT mengizinkannya pulang dalam keadaan sehat agar dapat kembali menggendong, merawat, dan menyaksikan keempat anaknya tumbuh bersama. Di tengah perjuangan itu, Allah menghadirkan pelajaran yang mengubah cara pandangnya. Selama menjalani pengobatan di Jakarta, Sutina bertemu dengan banyak pasien lain yang kondisinya jauh lebih berat. Pengalaman tersebut membuatnya semakin banyak bersyukur. Dengan penuh haru, Sutina berkata, “Saya kira ujian saya adalah yang paling berat. Tetapi setelah sampai di Jakarta, saya justru lebih banyak bersyukur. Ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang sedang berjuang dengan ujian yang lebih besar.” Kalimat sederhana itu lahir dari hati seorang ibu yang telah belajar menerima takdir dengan penuh keikhlasan.

Dalam perjuangan panjang ini, Allah juga menghadirkan banyak tangan-tangan kebaikan. Suaminya tetap setia mendampingi, orang tua dengan penuh kasih menjaga keempat anak mereka di kampung, sementara para tenaga kesehatan, relawan, dan donatur menjadi penyemangat yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.Selama menjalani pengobatan di Jakarta, Rumah Singgah Pasien IZI menjadi tempat yang menghadirkan rasa aman dan ketenangan. Bagi Sutina, rumah singgah ini bukan sekadar tempat beristirahat, tetapi rumah kedua tempat para pasien saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan bahwa tidak ada perjuangan yang harus dijalani sendirian. Kehangatan yang ia rasakan di sana menjadi kekuatan baru untuk terus bertahan menjalani proses pengobatan.

Kini Sutina masih menjalani terapi jantung pascaoperasi. Kondisinya perlahan membaik, meski perjalanan menuju kesembuhan masih panjang. Semangatnya tidak pernah padam karena ia percaya bahwa selama Allah SWT masih memberikan napas, selalu ada harapan untuk sembuh. Harapan Sutina sesungguhnya sangat sederhana. Ia ingin kembali ke Kalimantan Barat, berkumpul bersama suami dan keempat anaknya, kembali menjalankan perannya sebagai seorang ibu, serta menyaksikan buah hatinya tumbuh dan meraih masa depan yang lebih baik. Ia juga berharap Rumah Singgah Pasien IZI dapat terus menjadi rumah harapan bagi pasien-pasien dari berbagai daerah, serta semakin banyak orang yang Allah gerakkan hatinya untuk membantu sesama sehingga lebih banyak keluarga dapat terus berjuang tanpa merasa sendirian.

Bagi para donatur, mungkin nama Sutina hanyalah satu dari sekian banyak penerima manfaat. Namun bagi Sutina dan keluarganya, setiap bantuan yang diberikan adalah harapan yang membuat mereka mampu terus bertahan. Dengan penuh rasa syukur, ia mendoakan semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan para donatur dengan pahala yang berlipat ganda, melapangkan rezeki, menjaga kesehatan dan keluarga, mengangkat setiap kesulitan, serta menjadikan setiap bantuan sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat. Sebab sesungguhnya, di balik setiap tangan yang memberi, ada doa-doa tulus dari seorang ibu yang tak pernah berhenti dipanjatkan kepada Allah SWT.

[Risti – @inisiatifzakat_jakarta]