IZI Sumbar dan JNE Bekali UMKM Duafa dengan Strategi Bisnis, Logistik, dan Pembinaan Keislaman

Padang (28/8/26) — Mengembangkan usaha di tengah persaingan pasar tidak cukup hanya dengan memiliki produk yang baik. Pelaku usaha juga perlu memahami pemasaran, operasional, pengemasan, hingga layanan pengiriman. Di sisi lain, penguatan nilai keislaman juga menjadi bagian penting agar aktivitas usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi tetap dilandasi nilai kejujuran, amanah, dan kebermanfaatan. Hal tersebut menjadi bagian dari rangkaian pelatihan dan pembinaan kewirausahaan Program Pemberdayaan UMKM Duafa Bersama JNE yang diikuti oleh para Penerima Manfaat (PM) di Sumatera Barat. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah materi, mulai dari edukasi layanan logistik, mentoring operasional bisnis, hingga pembinaan amalan harian.

Dalam sesi pelatihan kewirausahaan, Abdallah Fathirsya selaku pemateri dari JNE memberikan edukasi kepada para PM mengenai pemanfaatan layanan logistik untuk mendukung pengembangan usaha, khususnya bagi penerima manfaat yang memiliki produk makanan dan membutuhkan jasa pengiriman ke luar kota. Ia memperkenalkan layanan YES (Yakin Esok Sampai) untuk pengiriman dengan estimasi tiba keesokan harinya, layanan Cash on Delivery (COD) yang memungkinkan pembayaran saat barang diterima, serta praktik cara packing yang aman dan tepat sesuai karakter produk agar risiko kerusakan dapat diminimalkan. Para PM juga mendapatkan penjelasan mengenai perhitungan ongkos kirim yang tidak hanya berdasarkan berat barang, tetapi juga dimensi atau ukuran paket, sebuah pemahaman penting bagi pelaku UMKM karena berkaitan dengan biaya operasional dan penentuan harga jual. Sebagai bentuk dukungan, JNE turut memberikan fasilitas penjemputan paket gratis bagi PM yang memiliki pengiriman ke luar kota, sekalipun hanya satu paket, sehingga para PM diharapkan dapat memanfaatkan layanan logistik secara lebih optimal untuk memperluas jangkauan pemasaran produk.

Pembinaan dilanjutkan melalui sesi mentoring Operasional Bisnis bersama Ahmad Hafidz, S.E., yang mengajak para PM memahami pentingnya perencanaan dan pertimbangan matang sebelum mengambil keputusan usaha. Ahmad menjelaskan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan kualitas produk, tetapi juga kemampuan membaca pasar, menghitung risiko, dan menentukan strategi yang tepat, sebab keputusan menutup usaha tidak selalu berarti produknya buruk, melainkan bisa dipengaruhi kondisi pasar, biaya operasional, hingga strategi yang kurang sesuai. “Dalam bisnis, kita jangan hanya memikirkan kondisi hari ini, tetapi juga harus memikirkan bagaimana keberlanjutan usaha ke depannya,” jelas Ahmad Hafidz. Ia juga menekankan pentingnya menentukan target pasar yang tepat, karena produk yang kurang diminati di satu daerah belum tentu berkualitas buruk, bisa jadi lebih cocok dipasarkan di wilayah lain dengan karakteristik konsumen berbeda, seperti halnya produk Chanel yang tak memiliki toko resmi di Padang bukan karena tak berkualitas, melainkan karena perbedaan segmentasi dan daya beli konsumen.

Tidak hanya mendapatkan pembinaan dari sisi usaha, para PM juga mengikuti pembinaan amalan harian yang disampaikan oleh Sinthiya Adela Fitri. Pembinaan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sisi spiritual penerima manfaat di tengah proses pemberdayaan ekonomi. Dalam pembinaan tersebut, para PM diajak membangun kebiasaan ibadah dan amalan sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan diarahkan agar para penerima manfaat mampu menjaga keseimbangan antara ikhtiar dalam menjalankan usaha dengan kedekatan kepada Allah SWT. Kabid PPZ IZI Sumatera Barat, Ksatrya Herizon Putra meminta para penerima manfaat memanfaatkan rangkaian pembinaan tersebut dengan sebaik mungkin. Ia juga mendorong PM untuk terbuka dalam menyampaikan kendala yang mereka hadapi selama menjalankan usaha. “Apapun kendala yang dijalani dalam bisnisnya silakan disampaikan. Gunakan kesempatan sebaik mungkin dalam pembinaan ini,” kata Ksatrya.

Salah satu penerima manfaat, Rika, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Ia menilai materi yang diberikan memberikan pemahaman bahwa mengembangkan usaha tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan dan menjual produk. “Alhamdulillah, dari pembinaan ini saya mendapatkan banyak ilmu baru. Ternyata dalam mengembangkan usaha bukan hanya soal produk, tetapi bagaimana cara mengemas, menghitung ongkos kirim, memberikan pelayanan kepada pelanggan serta merutinkan amalan harian sebagai wujud ketaatan pada Allah. Semoga ilmu yang diberikan bisa saya terapkan dalam usaha saya dan usaha ini bisa semakin berkembang,” ujar Rika.

Rangkaian pelatihan dan pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya IZI Sumatera Barat bersama JNE dalam mendampingi pelaku UMKM duafa. Pemberdayaan dilakukan tidak hanya melalui dukungan ekonomi, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas usaha dan penguatan nilai-nilai keislaman. Kolaborasi IZI Sumatera Barat dan JNE melalui Program UMKM Duafa menjadi ikhtiar untuk mendorong para penerima manfaat agar tidak hanya mampu bertahan dalam menjalankan usaha, tetapi juga terus tumbuh dan secara bertahap mencapai kemandirian ekonomi.

[Sinthiya Adela Fitri – @inisiatifzakat_sumbar]