Sumatera Utara – Di usia 49 tahun, Wandi Sudarma harus menghadapi perjuangan panjang melawan kanker nasofaring. Warga Kecamatan Bilah Barat, Kabupaten Labuhanbatu ini, mulai merasakan sakit sejak Agustus 2025. Rasa nyeri yang awalnya muncul di bagian kiri kepala kemudian terasa hingga mata, hidung dan telinga.
Sebelumnya, Wandi bekerja sebagai buruh dan pernah bekerja sebagai tukang semprot pupuk untuk perkebunan sawit milik PTPN. Dalam pekerjaannya tersebut, Wandi kerap terpapar bahan kimia dan mengaku tidak menggunakan masker saat melakukan penyemprotan. Selama kurang lebih satu bulan, rasa nyeri yang dialaminya tak kunjung mereda. Wandi kemudian dibawa untuk mendapatkan pengobatan di salah satu rumah sakit di Langkat. Saat itu, ia mendapatkan diagnosis awal terkait masalah pada kelenjar dan menjalani pengobatan selama kurang lebih enam bulan. Namun, memasuki bulan ketujuh, rasa nyeri yang dirasakan Wandi justru semakin hebat. Ia kemudian dirujuk ke RSUP H. Adam Malik Medan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Dari hasil pemeriksaan di RSUP H. Adam Malik, Wandi didiagnosis mengalami kanker nasofaring stadium 4. Sejak itu, ia harus menjalani rangkaian pengobatan yang tidak mudah. Wandi telah menjalani kemoterapi sebanyak tiga kali dan 35 kali radioterapi. Saat ini, ia masih melanjutkan kemoterapi dengan jadwal rawat inap setiap 21 hari sekali. Perjuangan pengobatan tersebut tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menjadi tantangan bagi kondisi ekonomi keluarga. Sebelum sakit, Wandi bekerja sebagai buruh untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, setelah kondisi kesehatannya menurun, istrinya, Nurhepi, harus mengambil alih peran sebagai pencari nafkah dengan bekerja sebagai buruh.

Untuk menjalani pengobatan di Medan, Wandi dan Nurhepi sempat tinggal di rumah kos yang berada di sekitar RSUP H. Adam Malik. Kondisi tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi keluarga yang harus menjalani pengobatan dalam waktu panjang. Hingga kemudian, Nurhepi bertemu dengan salah seorang pasien yang tinggal di Rumah Singgah Pasien (RSP) IZI Sumatera Utara. Dari pertemuan tersebut, Nurhepi mendapatkan informasi mengenai RSP dan mencoba mengajukan agar dapat tinggal di sana selama mendampingi pengobatan Wandi.
Kini, keberadaan RSP IZI Sumatera Utara menjadi tempat yang sangat berarti bagi Wandi dan Nurhepi. Selain membantu menyediakan tempat tinggal selama menjalani pengobatan, RSP juga membuat keluarga lebih tenang karena tidak lagi harus memikirkan biaya tempat tinggal selama berada di Medan. “Alhamdulillah, RSP ini sangat membantu kami, Bu. Kalau tidak ada RSP ini, enggak tahu bagaimana kami ini. Karena ada RSP ini sangat membantu, saya bersyukur karena diterima di RSP ini. Do’a saya, semoga donaturnya sukses, sehat selalu dan semoga RSP ini semakin jaya,” ungkap Nurhepi penuh haru.
Perjalanan Wandi masih panjang. Di tengah pengobatan yang terus dijalani, dukungan keluarga, pelayanan RSP, serta kepedulian para donatur menjadi bagian penting yang menguatkan langkahnya untuk terus berikhtiar. Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada Wandi, memberikan kekuatan dan kesabaran kepada keluarga, serta membalas setiap kebaikan para donatur yang telah mendukung hadirnya Rumah Singgah Pasien IZI Sumatera Utara bagi masyarakat yang membutuhkan.
[Fazliyah Nurhafshah Gultom – @inisiatifzakat_sumut]





