Jakarta – Setiap orang tua tentu menantikan momen ketika buah hatinya mulai mengenali wajah ayah dan ibunya, mengikuti gerakan di sekelilingnya, lalu tersenyum saat melihat dunia untuk pertama kalinya. Harapan sederhana itulah yang hingga kini masih terus diperjuangkan oleh kedua orang tua Axcel Kenandra Al Sheiraz.
Axcel, bayi asal Bengkulu yang lahir pada 18 November 2025, harus memulai perjuangan hidupnya sejak usia yang masih sangat belia. Saat usianya baru dua bulan, ia didiagnosis mengalami katarak kongenital, yaitu kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan penglihatannya terganggu sejak lahir. Pada awalnya, kedua orang tuanya mengira kekeruhan pada mata Axcel hanyalah pantulan cahaya. Namun, memasuki usia tiga bulan, mereka mulai menyadari bahwa putra kecilnya belum menunjukkan respons saat diajak berinteraksi maupun mengikuti gerakan di sekitarnya. Kekeruhan pada kedua matanya pun tampak semakin jelas. Kekhawatiran itu akhirnya membawa mereka berkonsultasi dengan dokter spesialis anak di Bengkulu.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Axcel mengalami katarak kongenital dan membutuhkan penanganan segera. Ia sempat dirujuk ke RS Tiara Sella, tetapi karena keterbatasan fasilitas operasi, Axcel kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta untuk menjalani pengobatan lebih lanjut. Pada 15 April 2026, Axcel bersama kedua orang tuanya berangkat menuju Jakarta. Perjalanan itu bukan sekadar menempuh ratusan kilometer dari Bengkulu, melainkan perjalanan penuh harapan agar suatu hari nanti Axcel dapat melihat dunia dengan lebih jelas. Setibanya di Jakarta, keluarga sempat kebingungan mencari tempat tinggal selama proses pengobatan. Alhamdulillah, mereka kemudian mendapatkan informasi mengenai Rumah Singgah Pasien IZI di Jalan Kramat VI yang menjadi tempat beristirahat sekaligus tempat menguatkan hati selama mendampingi Axcel menjalani setiap proses pengobatan.

Perjuangan Axcel berlanjut di RSCM Kirana. Pada 5 Mei 2026, ia menjalani operasi katarak pada mata kanan yang berjalan dengan lancar. Selanjutnya, pada 23 Juni 2026, operasi pada mata kiri juga berhasil dilakukan sebagai bagian dari upaya mengembalikan penglihatannya. Namun, perjalanan menuju kesembuhan belum berakhir. Setelah operasi pertama, dokter menemukan perlengketan pada mata kanan yang diduga berkaitan dengan virus CMV. Axcel pun harus menjalani berbagai pemeriksaan lanjutan, termasuk pemeriksaan PCR CMV kuantitatif dengan biaya sebesar Rp1.900.000 yang tidak ditanggung oleh BPJS. Syukur Alhamdulillah, hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa Axcel tidak terinfeksi virus CMV.
Selain itu, Axcel juga menjalani pemeriksaan BERA yang menunjukkan fungsi pendengarannya dalam kondisi normal pada kedua telinga, serta menjalani CT Scan kepala dengan kontras sebagai bagian dari evaluasi lanjutan. Hingga kini, Axcel masih rutin menjalani kontrol dan menunggu tahapan pengobatan berikutnya. Di balik tubuhnya yang masih begitu kecil, tersimpan perjuangan yang begitu besar. Perjalanan jauh dari Bengkulu ke Jakarta, operasi demi operasi, pemeriksaan yang tak sedikit, serta doa yang terus dipanjatkan menjadi bagian dari ikhtiar keluarga agar Axcel memiliki kesempatan untuk tumbuh dan melihat dunia seperti anak-anak lainnya.
Selama berada di Jakarta, Rumah Singgah Pasien IZI menjadi tempat yang menemani perjalanan keluarga ini. Bukan hanya menyediakan tempat tinggal sementara yang layak, tetapi juga menghadirkan rasa tenang, dukungan dari para relawan, serta semangat dari keluarga pasien lain yang sama-sama sedang berjuang. Kini, harapan itu masih terus dijaga. Kedua orang tua Axcel berharap putra kecil mereka dapat menjalani seluruh proses pengobatan dengan baik hingga kelak mampu melihat wajah ayah dan ibunya dengan jelas, mengenal warna-warni dunia, dan tumbuh sehat sebagaimana anak-anak seusianya. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan setiap ikhtiar yang dijalani Axcel dan keluarganya. Sebab bagi seorang anak, kesempatan untuk melihat dunia adalah anugerah yang tak ternilai, dan bagi kedua orang tuanya, melihat cahaya kembali hadir di mata kecil Axcel adalah doa yang tak pernah berhenti mereka panjatkan.
[Risti – @inisiatifzakat_jakarta]




