Semarang – Program Sekolah Pendamping kembali dilaksanakan di Rumah Singgah Pasien IZI Jawa Tengah dengan menghadirkan Megah Andriany, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Mengangkat tema “Merawat dengan Hati Tanpa Melupakan Diri: Mengelola Caregiver Burden pada Pendamping Pasien Kanker”, kegiatan ini diikuti oleh delapan penghuni RSP yang terdiri dari pasien dan keluarga pendamping. Kegiatan berlangsung di ruang tengah RSP IZI Jateng dengan suasana tenang dan peserta yang antusias mengikuti materi.

Dalam sesi awal, Megah mengajak peserta berbagi dengan pertanyaan sederhana, “Apa hal tersulit yang dirasakan selama mendampingi pasien?” Peserta kemudian dikenalkan dengan istilah caregiver burden, yaitu beban yang muncul ketika tuntutan merawat pasien terasa melebihi kemampuan atau sumber daya fisik, emosional, sosial, maupun finansial yang dimiliki pendamping. “Kalau stres terasa berat atau menetap, caregiver perlu mencari bantuan profesional, misalnya kepada psikolog, psikiater, dokter, atau tenaga kesehatan yang menangani pasien. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah jika tidur dan makan mulai terganggu, sering merasa cemas, sedih, marah, atau terus-menerus overthinking,” jelas Megah.
Peserta juga mendapatkan strategi sederhana untuk mengurangi beban pendamping, seperti mengenali hal yang dapat dan tidak dapat dikontrol, tidak memikul seluruh tanggung jawab sendirian, serta menyediakan waktu untuk diri sendiri. Megah turut mengajarkan metode STOP saat emosi terasa penuh, yaitu Stop (berhenti sejenak), Take a breath (menarik napas perlahan dan mengembuskannya lebih panjang), Observe (menyadari apa yang dirasakan dan dibutuhkan), serta Proceed (melanjutkan dengan tindakan yang lebih membantu).

Dalam sesi sharing, Astri, pejuang autoimun asal Kabupaten Pekalongan, turut menceritakan pengalamannya bersama sang putri sebagai pendamping. Keduanya terkadang mengalami perbedaan suasana hati hingga memilih diam, yang kemudian berpengaruh pada kondisi Astri. Dari pengalaman tersebut, peserta diajak melihat pentingnya komunikasi dan memberi jeda ketika salah satu pihak sedang lelah atau membutuhkan waktu.
Menutup sesi, Megah mengingatkan bahwa pendamping juga memiliki batas dan kebutuhan untuk dirawat. “Caregiver juga manusia. Boleh lelah, boleh meminta bantuan, dan boleh beristirahat. Merawat diri bukan berarti mengurangi cinta kepada pasien. Justru dengan menjaga diri, kita memberi kesempatan untuk terus hadir dengan lebih sehat dan penuh kasih,” pesan Megah. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama. Semoga ilmu yang diberikan dapat menjadi bekal bagi para pendamping RSP IZI Jateng untuk tetap membersamai orang terkasih, sekaligus menjaga diri agar tetap kuat dalam menjalani proses pengobatan bersama.
[AC/JTG – @inisiatifzakat_jateng]




