Rumah yang Dinanti, Tak Sempat Ditempati

Aceh – Pada Rabu (21/10/2026). kabar duka datang dari Calon Penghuni Hunitara IZI di Aceh. Mukhtar, atau yang akrab disapa Pak Gutan, telah berpulang ke Rahmatullah setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya. Hati ini terasa begitu berat mengingat pertemuan beberapa waktu lalu. Hampir setahun pascabanjir bandang Aceh, Pak Gutan bersama keluarganya harus bertahan di tenda darurat yang jauh dari kata layak. Saat hujan turun, tenda itu bocor dan lembap. Saat matahari terik menyengat, panasnya terasa menyesakkan. Namun di tengah keterbatasan itu, beliau tetap menyimpan harapan.

Kami masih mengingat jelas bagaimana sorot matanya berbinar saat berdiri di depan Huntara yang sedang dibangun. Dengan senyum sederhana khas seorang ayah dan kakek yang telah banyak melewati pahitnya kehidupan, beliau berkisah tentang keinginannya menempati rumah itu. “Kalau sudah selesai, saya mau tinggal di situ.” Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi seorang penyintas yang hampir setahun tidur di bawah tenda, kalimat itu adalah harapan besar. Harapan untuk merasakan malam yang teduh. Harapan untuk beristirahat tanpa takut hujan. Harapan untuk menghabiskan sisa usia di tempat yang lebih layak bersama anak dan cucu-cucunya.

Sayangnya, takdir Allah berkata lain. Rumah itu akhirnya selesai. Lantai telah terpasang. Dinding telah berdiri. Atap telah menaungi. Namun pemilik harapan itu lebih dulu dipanggil menghadap Sang Pencipta. Pak Gutan belum sempat membuka pintu rumah yang selama ini dinantikannya. Belum sempat menggelar tikar untuk beristirahat. Belum sempat merasakan sejuknya berteduh di dalam huntara yang dibangun untuknya. Allah Maha Membolak-balikkan takdir. Ketika rumah sederhana di dunia belum sempat beliau tempati, semoga Allah menggantinya dengan rumah yang jauh lebih indah, lebih luas, dan lebih nyaman di sisi-Nya.

Kini, huntara itu berdiri dalam suasana yang berbeda. Bukan menjadi tempat pertama Pak Gutan beristirahat bersama keluarga, tetapi insyaallah menjadi tempat berkumpulnya keluarga, tetangga, dan kerabat untuk mengirimkan doa, mengadakan tahlil, dan mengenang sosok beliau. Rumah yang beliau nantikan akhirnya berdiri. Namun, Pak Gutan telah lebih dahulu pulang menuju rumah terbaik yang telah Allah siapkan.

Selamat jalan, Pak Gutan. Terima kasih telah mengajarkan kepada kami bahwa di tengah kehilangan, kesabaran tetap bisa tumbuh. Semoga Allah mengampuni segala dosa beliau, melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

[Arman – @inisiatifzakat]