Padang (27/8/26) — Sehari-hari, Fera (38) menjalani hidup sederhana bersama anaknya yang berusia 14 tahun di sebuah rumah kontrakan di kawasan Dadok Tunggul Hitam, Kota Padang. Di tengah keterbatasan ekonomi, perempuan yang menjadi orang tua tunggal itu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai buruh lepas catering. Namun, dalam sebulan terakhir, pekerjaan tersebut sepi orderan. Penghasilan yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari praktis tidak ada. Dalam kondisi itu, Fera harus berhemat, bahkan beberapa kali menahan lapar agar kebutuhan makan tetap bisa dipenuhi.
Kondisi tempat tinggal mereka juga jauh dari kata layak. Dengan biaya sewa Rp700 ribu per bulan, rumah kontrakan tersebut nyaris tidak memiliki perabot. Satu-satunya barang yang masih dimiliki adalah sebuah magic com. Untuk tidur dan beristirahat, Ibu Fera bersama anaknya hanya beralaskan lantai. Keterbatasan ekonomi juga berdampak pada pendidikan sang anak. Anak Fera terpaksa berhenti sekolah sejak kelas 2 SD karena keterbatasan biaya. Meski demikian, keinginan untuk kembali belajar masih ada. Ia berharap dapat mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

Di tengah situasi tersebut, bantuan kemudian datang melalui Program Sedekah Subuh IZI Sumatera Barat. IZI menyalurkan bantuan berupa sembako serta santunan dana untuk membantu pembayaran kontrakan yang telah menunggak selama tiga bulan. Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi Fera. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan, santunan yang diberikan turut meringankan beban biaya tempat tinggal yang selama ini menjadi salah satu persoalan utama keluarga tersebut.
Surveyor Mustahik IZI Sumatera Barat, Dede Putra, mengatakan kondisi Ibu Fera menjadi salah satu gambaran nyata bahwa masih terdapat keluarga yang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar. “Ketika kami melakukan survei, kami melihat kondisi Ibu Fera memang sangat membutuhkan bantuan. Beliau harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan sedang sepi. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban beliau, terutama untuk kebutuhan makan dan tempat tinggal,” ujar Dede.
Bagi Fera, bantuan yang diterimanya bukan sekadar sejumlah bahan kebutuhan pokok dan uang santunan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, kepedulian para donatur memberikan ruang baginya untuk kembali bernapas dan melanjutkan perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga. “Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih banyak kepada IZI dan seluruh Bapak/Ibu donatur. Bantuan ini sangat berarti untuk makan kami dan sewa kontrakan. Semoga Allah membalas dengan pahala berlipat ganda, rezeki yang lapang, kesehatan, serta keberkahan untuk keluarga dan usaha Bapak/Ibu semua. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin,” ujar Fera.
Melalui Program Sedekah Subuh, IZI Sumatera Barat berupaya menjembatani kepedulian para donatur dengan masyarakat yang membutuhkan. Bantuan yang disalurkan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meringankan beban keluarga penerima manfaat agar dapat kembali menata kehidupannya. Kisah Fera menjadi gambaran bahwa di tengah kehidupan masyarakat, masih ada keluarga yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan paling dasar. Kepedulian yang diberikan, sekecil apa pun, dapat menjadi berarti ketika sampai kepada mereka yang sedang berada dalam kondisi sulit.
IZI Sumatera Barat terus mengajak masyarakat untuk mengambil bagian dalam gerakan kebaikan melalui Sedekah Subuh. Sebab, dari sedekah yang ditunaikan di awal hari, manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
[Sinthiya Adela Fitri – @inisiatifzakat_sumbar]





