Kehidupan berjalan bagaikan roda. Adakalanya taraf hidup kita berada di atas. Pada kesempatan lain, kondisi itu berbalik 180 derajat. Beberapa orang yang mengalami kejatuhan taraf hidup akan mengeluh panik. Namun di antaranya, ada juga yang malah menyimpannya sendiri dengan bersabar dan bertawakkal.
Edi Susanto (36) adalah karyawan suatu perusahaan swasta di daerah Wonosobo. Kehidupannya bahagia bersama anak dan istrinya yang tengah mengandung anak kedua. Meski bukan masuk dalam kategori “orang kaya”, Edi beserta keluarga mampu menjalani hari-harinya tanpa kendala.
Belum lagi mencapai taraf hidup yang sempurna, Edi harus meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan tetap. Hal itu bukan tanpa sebab, karena pria kelahiran tahun 1982 itu lebih memilih menyelamatkan nyawa anaknya yang kedua.

Kisahnya bermula saat kehamilan sang istri menginjak bulan ke-6. Dokter mengabarkan bahwa ketubannya mengalami kebocoran. Berikutnya di bulan tujuh kehamilan, jabang bayi mengalami kekurangan cairan dan asupan makanan dalam kandungan. Keputusan sulit pun di ambil, bayi tersebut lahir prematur, dan diberi nama Muhammad Rafif Farqah.
Belum selesai sampai di situ kondisi anak kedua Edi terus mengalami penurunan kondisi. Tubuhnya kurus membiru dan senantiasa menangis. Baru tiga hari di rawat, Edi membawanya ke RSUD Wonosobo, lalu ke RS. DR. Sardjito – Yogyakarta, sebagaimana rujukan para dokter.
Edi Susanto setia menemani istri dan anak keduanya. Selama masa-masa kritis, Edi tak pernah melewati waktu bersama mereka, hingga tak sadar bahwa izin cutinya telah habis terpakai. Karyawan swasta itu menyadari akan mengambil keputusan yang sulit ke depannya.
Benar saja. Demi mendengar Rafif dinyatakan Gagal Ginjal Kronis (GGK) dan epilepsi, Edi memutuskan resign dari pekerjaannya dan membawa Rafif ke RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Bukannya sembuh status anak keduanya itu justru meningkat : si kecil divonis CNS (Congetial Nehrotic Syndrome), sebuah penyakit yang hanya diidap oleh 1 hingga 3 bayi dari 100.000 kelahiran. Secara keterangan, CNS merupakan kelainan pada keturunan di mana sang penghidap mengalami gangguan protein pada urine serta pembengkakan di sekujur tubuh.
Edi Susanto terus memantau kondisi anak keduanya yang kadang drop suatu waktu. Pagi hingga malam; terus berjaga bergantian bersama sang istri. Jika waktunya rawat jalan tiba, Edi membawa motornya sebelum subuh disertai istri dan si kecil Rafif. Mereka rela menerobos dinginnya jalanan kota Serpong menuju Jakarta.
Kini Edi tak lagi memiliki tempat tinggal tetap. Tabungannya habis; tanahnya di Wonosobo pun telah dijual. Meski demikian, ia tetap harus memenuhi setidaknya sepuluh juta rupiah per bulan untuk keluarga dan kebutuhan pengobatan Rafif.
Meski dililit kesulitan, Edi terus bertawakkal. Bekerja serabutan; kadang ia memenuhi permintaan tetangga memperbaiki jaringan listrik rumah atau barang-barang elektronik. Bahkan, ia ikut menjadi kuli las di proyek jembatan layang jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Namun semua itu belum lah cukup. Tidak akan pernah cukup. Istilah kata yang pas bagi Edi kini, besar pasak daripada tiang.
Edi bukanlah tipikal peminta-minta, namun bukan berarti kita kehilangan rasa empati. Setidaknya dengan membantunya, Allah akan membantu kita dunia-akhirat. Klik : : Zakatpedia
Leave a Reply