IZI Jateng Lakukan Supervisi Monitoring Program Pemberdayaan Ekonomi Difabel MTT Jateng DIY untuk Jaga Semangat Usaha Roti Seruni
Semarang (21/5/26) – IZI Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan supervisi monitoring Program Pemberdayaan Ekonomi Difabel yang didukung oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) Jateng DIY kepada Slamet dan istrinya, Erma, pelaku usaha rumahan “Roti Seruni.” Alhamdulillah, saat ini keduanya dalam keadaan sehat wal afiat. Slamet merupakan seorang difabel tuna daksa, sedangkan sang istri mengidap polio sehingga harus menggunakan alat bantu jalan. Meski memiliki keterbatasan fisik, keduanya tetap semangat menjalankan usaha demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam kesehariannya, Slamet dan Erma menjalankan usaha roti rumahan dengan saling berbagi peran. Erma bertugas membuat aneka roti manis dan donat dengan berbagai topping di rumah, seperti meses coklat, keju, coklat keju, coklat kacang, glaze green tea, glaze stroberi, dan lain lain, sedangkan Slamet menjualnya secara keliling menggunakan sepeda ramah difabel di area Kota Semarang hingga wilayah Bundaran Bubakan. Aktivitas berjualan biasanya dimulai sejak pukul 15.30 WIB hingga malam hari. Dalam sekali produksi, keduanya rutin membuat roti setiap dua hari sekali dengan berbagai takaran bahan untuk menghasilkan donat dan roti manis yang nantinya dijual kepada pelanggan.
Saat berjualan keliling, Slamet biasanya membawa sekitar 26 hingga 28 pcs donat dengan harga Rp5.000 per pcs. Namun, ketika cuaca mulai mendung atau hujan, jumlah yang dibawa dikurangi menjadi sekitar 14 pcs karena penjualan cenderung menurun dan kondisi jalan cukup berisiko. Alhamdulillah, pada bulan Mei ini, usaha “Roti Seruni” mulai dikenal pelanggan, dibuktikan dengan adanya pesanan donat sebanyak 32 pcs dengan berbagai topping seperti green tea, stroberi, dan cokelat. Hal tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi Slamet dan istri untuk terus mempertahankan usaha yang dirintis bersama.

Melalui supervisi dan monitoring ini, IZI Jawa Tengah turut memastikan perkembangan usaha serta memberikan dukungan moral agar Slamet dan keluarga tetap semangat menjalankan usahanya di tengah berbagai tantangan, terutama faktor cuaca yang kerap menjadi kendala dalam berjualan keliling.
Alhamdulillah, dari hasil usaha tersebut, Slamet mampu memperoleh penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal usaha kembali di hari berikutnya. Harapannya, program pemberdayaan ekonomi difabel ini dapat terus memberikan manfaat dan memperkuat kemandirian para penerima manfaat agar semakin berdaya dan produktif.
