Perjuangan Fitriyah Melawan Kanker Serviks: Ikhtiar Panjang yang Berlanjut di Rumah Singgah Pasien IZI Jateng

Semarang – Fitriyah (44), pejuang kanker serviks asal Kabupaten Pekalongan, menjalani perjalanan pengobatan yang panjang sebelum akhirnya dapat melanjutkan terapi di RSUP Dr. Kariadi. Awalnya, beliau didiagnosis mengalami hamil anggur dan menjalani tindakan kuret di rumah sakit daerah. Setelah kontrol beberapa waktu kemudian, dokter menemukan adanya tumor ganas dan merujuknya ke RSUP Dr. Kariadi. Namun, rasa takut menghadapi pengobatan serta keterbatasan biaya membuat Fitriyah beberapa kali menunda pengobatan. Di tengah perjalanan, beliau juga sempat menjalani operasi pengangkatan rahim di rumah sakit lain dengan harapan penyakitnya selesai, tetapi hasil pemeriksaan kembali menunjukkan adanya tumor ganas sehingga harus dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi.

Penundaan pengobatan membuat kondisi Fitriyah semakin berat. Beliau beberapa kali mengalami perdarahan hebat dan sempat mencoba pengobatan tradisional karena keterbatasan biaya. Saat kondisinya memburuk, keluarga membawanya ke RSUP Dr. Kariadi hingga akhirnya harus menjalani perawatan intensif. Fitriyah bahkan dua kali dirawat di ICU karena tekanan darahnya turun hingga 40/20, disusul kondisi buang air kecil dan buang air besar disertai darah yang mengharuskannya kembali dirawat. Selama proses pemeriksaan, beliau juga sempat menjalani puasa medis selama 15 hari untuk membantu dokter menentukan sumber perdarahan yang dialami.

Kini, perjuangan Fitriyah berlanjut melalui radioterapi sebanyak 23 kali dan kemoterapi yang telah memasuki siklus ke-10. Perjalanan ini juga menjadi ujian bagi keluarga. Sang suami bekerja serabutan, sementara kedua anak mereka yang masih duduk di bangku SMP mendapat bantuan biaya pendidikan dari adik Fitriyah. Di sisi lain, ibunda beliau yang sudah lanjut usia masih bekerja sebagai buruh cabut benang pada celana denim dengan upah yang sederhana, bahkan rela berutang demi membantu biaya pengobatan putrinya. Di tengah perjuangan tersebut, berat badan Fitriyah sempat turun hingga 12 kilogram.

Saat menjalani kemoterapi, Fitriyah mendapat informasi mengenai Rumah Singgah Pasien IZI Jawa Tengah dari sesama pasien di RSUP Dr. Kariadi. Sejak kemoterapi ke-9, beliau mulai tinggal di rumah singgah dan datang seorang diri karena keluarga harus tetap bekerja mencari nafkah. Meski jauh dari keluarga, semangatnya untuk sembuh tidak pernah surut.

“Terima kasih banyak sudah menerima dan membantu saya di Rumah Singgah IZI. Saya tidak tahu bagaimana jika tidak ada rumah singgah, mungkin saya tidak bisa melanjutkan pengobatan. Saya benar-benar sangat terbantu dengan semua pelayanan di sini,” ungkap Fitriyah. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kemudahan, dan kesembuhan untuk Fitriyah, serta membalas setiap ikhtiar dan pengorbanan keluarga yang terus setia mendampingi perjuangan beliau.