Jakarta (17/6/26) – Akademizi kembali menyelenggarakan Forum Literasi Filantropi Vol. 40 secara daring melalui Zoom Meeting dengan mengangkat tema “Dollar Naik, Daya Beli Menurun. Apakah Donasi Juga Akan Ikut Turun?”. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM (Pimpinan BAZNAS RI) dan Muhammad Ardhani, S.Hut., M.E., CFRM (Direktur Edukasi dan Kemitraan LAZNAS IZI), serta diikuti oleh lebih dari 130 peserta yang berasal dari lembaga zakat, yayasan, NGO, dan pegiat filantropi dari berbagai daerah di Indonesia.
Forum Literasi Filantropi merupakan agenda literasi rutin bulanan yang diselenggarakan Akademizi sebagai ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pengelolaan lembaga filantropi. Dalam pembukaan acara, moderator menyampaikan bahwa forum ini telah memasuki penyelenggaraan ke-40 dan bertujuan memperkuat kapasitas insan filantropi Indonesia melalui pembelajaran yang aplikatif dan berbasis praktik lapangan.

Mengawali sesi materi, Dr. Rizaludin Kurniawan menjelaskan bahwa penguatan ekonomi Islam melalui zakat tidak hanya berbicara mengenai distribusi kekayaan, tetapi juga bagaimana dana zakat mampu mendorong produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, zakat merupakan instrumen penting dalam menciptakan keadilan ekonomi melalui fungsi distribusi dan produksi sehingga mampu menjadi salah satu penyangga stabilitas ekonomi nasional.
Dalam paparannya, Rizaludin juga mengungkapkan hasil Survei Nasional ZISWAF 2026 yang menunjukkan bahwa estimasi total nilai ZISWAF masyarakat Muslim Indonesia mencapai Rp343,1 triliun dalam satu tahun terakhir. Data tersebut memperlihatkan besarnya potensi sekaligus partisipasi masyarakat dalam aktivitas filantropi Islam yang masih sangat kuat di tengah dinamika ekonomi. Selain itu, pembayaran zakat fitrah diperkirakan mencapai Rp8,4 triliun, sementara nilai ibadah kurban mencapai sekitar Rp52 triliun dalam satu tahun terakhir.
Sementara itu, Muhammad Ardhani menekankan bahwa kondisi ekonomi yang tidak menentu memang memengaruhi perilaku masyarakat dalam berdonasi. Namun demikian, menurutnya, yang lebih banyak berubah bukanlah semangat berbagi, melainkan pola dan cara masyarakat dalam menyalurkan donasinya. “Di tengah kondisi ekonomi saat ini, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Karena itu, lembaga filantropi harus mampu menyesuaikan strategi agar tetap relevan dengan kebutuhan dan perilaku donatur,” jelas Ardhani.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan (trust) merupakan faktor paling penting dalam mempertahankan loyalitas donatur. Kepercayaan tersebut dibangun melalui integritas, kompetensi, transparansi, serta kemampuan lembaga dalam menjaga amanah yang diberikan masyarakat. “Donatur hari ini ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh lembaga. Bukan karena mereka curiga, tetapi karena mereka ingin memastikan amanah yang dititipkan benar-benar sampai dan memberikan manfaat,” ungkapnya.
Selain itu, Ardhani juga menyoroti pentingnya pengelolaan database donor sebagai aset strategis lembaga. Menurutnya, retensi donatur harus dimulai dari pemahaman terhadap riwayat transaksi, profil donatur, hingga perilaku mereka dalam berdonasi sehingga lembaga dapat mengambil keputusan berbasis data dan membangun hubungan jangka panjang dengan para donatur.
Pada sesi diskusi, kedua narasumber sepakat bahwa ketidakpastian ekonomi tidak boleh menjadi alasan bagi lembaga filantropi untuk menurunkan kualitas pelayanan kepada donatur. Sebaliknya, situasi ini menjadi momentum bagi lembaga untuk memperkuat transparansi, meningkatkan kualitas komunikasi, memanfaatkan data secara optimal, serta menghadirkan dampak program yang semakin nyata bagi masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Forum Literasi Filantropi Vol. 40, Akademizi berharap insan filantropi Indonesia semakin siap menghadapi perubahan kondisi ekonomi dengan strategi fundraising yang adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada penguatan kepercayaan publik. Sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia filantropi, Akademizi akan terus menghadirkan forum literasi, pelatihan, coaching, sertifikasi profesi, dan berbagai program pengembangan kapasitas untuk mendukung profesionalisme pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf di Indonesia.