Direktur Pendistribusian & Pendayagunaan Zakat
|
Pendidikan |
SMUN 1 Lembang S1 Manajemen, Universitas Siber Asia S2 Magister Ekonomi, Institut Agama Islam SEBI, konsentrasi Filantropi Syariah |
|
Media Sosial |
Facebook: Aan Suherlan Instagram: suherlan.aan |
Dikenal sebagai penata program pemberdayaan yang menempatkan tata kelola sebagai syarat keberlanjutan manfaat zakat. Pendidikan menengahnya ditempuh di SMUN 1 Lembang, dilanjutkan pendidikan Sarjana (S1) pada Program Studi Manajemen Universitas Siber Asia. Pendalaman keahliannya di bidang filantropi Islam ia tempuh melalui Magister Ekonomi Institut Agama Islam SEBI dengan konsentrasi Filantropi Syariah, jalur akademik yang sama dengan sejumlah praktisi senior pengelolaan zakat di Indonesia. Perpaduan disiplin manajemen dan kajian filantropi syariah inilah yang tercermin dalam cara kerjanya, yaitu memastikan setiap program pendayagunaan memiliki rujukan, indikator, dan pertanggungjawaban yang jelas.
Karier kemanusiaannya dibangun lintas lembaga sebelum berlabuh di IZI. Ia pernah mengemban amanah sebagai Senior General Manager Human Initiative, di antaranya memimpin pendistribusian bantuan penanganan pandemi hasil kolaborasi dengan Special Mission Vehicle Kementerian Keuangan yang menjangkau delapan lokasi di Jabodetabek, Bandung, dan Tasikmalaya. Pengalaman mengelola operasi kemanusiaan berskala nasional itu ia bawa ke IZI, tempat ia kini memegang mandat atas seluruh rantai penyaluran manfaat lembaga, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dakwah, hingga kebencanaan.
Perannya juga menjangkau ranah kemanusiaan lintas negara dan advokasi kebijakan. Ia mewakili LAZNAS IZI dalam seremonial Pelepasan Bantuan Kemanusiaan Membasuh Luka Palestina bersama BAZNAS RI dan lembaga zakat lainnya. Pada isu regulasi, ia turut aktif dalam Focus Group Discussion Advokasi Revisi Undang-Undang Zakat yang membahas tata kelola digital dan perlindungan data. Di forum regional, ia mewakili IZI pada Muzakarah Zakat Kebangsaan 2026 di Negeri Sembilan, Malaysia, yang mengangkat tema Wakalah Zakat: Antara Harapan dan Tantangan. Ia juga menegaskan pentingnya kehadiran literatur zakat yang tidak hanya normatif, tetapi kontekstual dan operasional, saat peluncuran buku 100 Soal-Jawab Zakat Kontemporer di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Gagasan yang paling konsisten ia bawa adalah pentingnya grand desain program sebagai fondasi keberlanjutan lembaga. Menurutnya, setiap lembaga amil zakat wajib memiliki grand desain sebagai arah kebijakan, karena lembaga zakat harus menjadi organisasi yang berumur panjang dan setiap programnya membutuhkan rujukan serta panduan yang jelas. Grand desain tersebut ia rumuskan mencakup penetapan target mustahik jangka tiga hingga lima tahun, rasio serapan anggaran, standar pengukuran kemiskinan yang ilmiah, indikator keberhasilan lintas sektor, manajemen relawan yang terstruktur, pengelolaan database mustahik, serta kontribusi nyata terhadap Sustainable Development Goals. Ia juga menempatkan audit syariah sebagai instrumen pengawasan yang idealnya dimulai sejak tahap perencanaan hingga pelaporan yang transparan. Di atas semua kerangka teknis itu, ia memegang satu prinsip dasar: setiap kegiatan pemberdayaan IZI tidak terlepas dari dua aspek, yaitu aspek materi berupa peningkatan penghasilan dan produktivitas, serta aspek spiritual berupa pembinaan keislaman, sehingga perubahan yang terjadi pada mustahik bersifat menyeluruh.