Inisiatif Zakat IndonesiaInisiatif Zakat Indonesia
  • Beranda
  • Kenali IZI
  • Layanan
    • Pembayaran
    • Donatur
    • Mustahik
  • Tata Kelola
    • Hasil Audit
      • Audit Syariah
      • Audit Keuangan
      • Audit ISO
    • Kebijakan ISO
      • Pedoman Manajemen Risiko
      • Pakta Integritas
      • Kebijakan Anti Penyuapan
      • Kebijakan Mutu
    • Whistle Blowing System
Search
  • Beranda
  • Kenali IZI
  • Layanan
    • Pembayaran
    • Donatur
    • Mustahik
  • Tata Kelola
    • Hasil Audit
      • Audit Syariah
      • Audit Keuangan
      • Audit ISO
    • Kebijakan ISO
      • Pedoman Manajemen Risiko
      • Pakta Integritas
      • Kebijakan Anti Penyuapan
      • Kebijakan Mutu
    • Whistle Blowing System
Custom MessageSpecial Offer!Buy this Theme!HOT

‘Iqra’, Motivasi Dr. Nurul Jadi Ahli Nano Indonesia

Ayu Lestari2019-01-31T12:30:58+07:00
Ayu Lestari Kisah Teladan ahli nano indonesia, Dr. Nurul, ilmuwan, ilmuwan muslim, teknologi 0 Comments

Perkembangan teknologi abad 21, kentara sekali bahwa para pembaharu teknologi masa kini ditemukan oleh orang-orang nonmuslim. Seperti pada teknologi informasi. Ada penemu facebook yang seorang Yahudi. Dari facebook, Mark Elliot Zuckerberg pernah mensedekahkah Rp. 11 Triliun di tahun 2015 ke yayasan yang ia bangun bersama istrinya. Sedekah itu membantu yayasan pendidikan, kesehatan serta layanan umum lainnya.

Lain hal dengan facebook, di dunia elektronik ada Steven Paul Jobs yang menemukan produk Apple Computer. Hingga kini, usaha yang digeluti Jobs meluas ke ranah iPhone dan iBook. Facebook dan Apple adalah segelentir produk yang memiliki manfaat bagi kebutuhan manusia akan teknologi informasi.

Namun, perlu dipertanyakan, “Kemanakah ilmuan Muslim masa kini? Kok perkembangan teknologi dikuasai oleh mayoritas non muslim?”

Mari tengok sejarah. Al-Jabar yang menjadi dasar penemuan teknologi terkemuka masa kini, ditemukan oleh Al Khawarizmi. Bidang ilmu yang kita kenal sebagai solusi sistematik dan linear, serta notasi kuadrat dalam dunia matematika tersebut adalah hasil penemuan dari seorang Muslim asal Persia.

Tentu kita pun mengetahui seorang Muslim asal Bukhara yang mempublikasikan penemuan pertamanya di dunia medis. Ia adalah Ibnu Sina atau dikenal Avicenna oleh peradaban barat. Karya fenomenal yang dikenal sepanjang masa tersebut adalah Mantik Al Syifa yakni sebuah buku paling otentik dalam ilmu mantik Islami. Bukankah Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina adalah tokoh ilmuan muslim yang memiliki peran teramat penting dalam peradaban teknologi kekinian?

Ilmu yang mereka temukan menjadi dasar dari perkembangan teknologi, entah teknologi informasi maupun medis dan bahkan semua perkembangan teknologi. Tak banggakah kita sebagai Muslim atas penemuan mereka? Atau jangan-jangan, kita termasuk orang-orang yang melupakan jasa-jasa ilmuan Muslim sehingga menganggap orang Muslim sendiri adalah masyarakat dengan peradaban teknologi tertinggal?

Februari 2016, Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology milik Dr. Warsito Purwo Taruno, diberhentikan praktiknya oleh pemerintah Republik Indonesia. Penemu EECT (Electrical Capacitanse Volume Tomograph) sebagai alat pembasmi kanker otak dan kanker payudara tersebut merupakan ilmuan Muslim asal Indonesia yang karyanya kurang dihargai oleh pemerintah Indonesia.

“Itulah yang menjadi salah satu problem dari ilmuan-ilmuan Indonesia saat ingin mengaplikasikan hasil temuannya di negeri sendiri,” ungkap Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M. Eng. selaku Chairman Indonesian Society for Nano LIPI.

Menjadi seorang ilmuan merupakan sebuah pilihan. Apakah akan menjadi ilmuan yang ingin kaya atau menjadi penemu yang hasil karyanya bisa bermanfaat untuk masyarakat? Sekelumit tujuan awal dari calon ilmuan tersebut yang sering ditekankan oleh pria kelahiran Malang, 5 Agustus 1970 lalu. Hal tersebut menjadi penting ditanyakan, mengingat menjadi seorang ilmuan atau peneliti tidaklah semudah membolak-balikkan tangan, yang satu hari penelitian langsung bisa menemukan ramuan terbaru dan bermanfaat.

Di Indonesia, kesulitan yang sering dialami oleh peneliti adalah adanya sistem dalam negeri yang terkesan kurang mendukung adanya penelitian terbaru. “Sistem yang belum terbentuk dengan baik. Dimana, kebanyakan masyarakat menilai bahwa seorang ilmuan itu anti kemapanan. Padahal dengan menjadi seorang ilmuan, kita pun diajarkan untuk menjadi entrepreneur,” tukas mahasiswa doktoral Teknik dan Material Proses Universitas Kagoshima Jepang angkatan tahun 1997-2000.

Mantan mahasiswa dari program S1-S3 di Universitas Kagoshima Jepang tersebut menambahkan bahwa menjadi peneliti adalah jalan yang baik. Seorang peneliti bukan orang yang mengharapkan menjadi profesor yang kaya, melainkan menjadi pribadi yang dapat memberikan manfaat. Jika ada orang Indonesia yang enggan menjadi ilmuan, tentu saja ia bisa melihat pengalaman dari ilmuan-ilmuan sebelumnya. Terlebih kurangnya motivasi untuk menjadi peneliti serta anggaran untuk penelitian yang belum memadai.

Seperti BJ. Habibi yang tenar dengan temuan teknologi pesawatnya, namun bangsanya sendiri menolak karya tersebut. “Demikian pula dengan Dr. Warsito. Hal amat sangat disayangkan, karena niat baik para peneliti untuk perkembangan bangsa malah ditolak dengan alasan yang kurang masuk akal,” tambah peneliti yang fokus di bidang fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Membendung mindset bahwa menjadi peneliti anti kemapanan, maka ilmuan masa kini pun diajarkan untuk mandiri. Melalui program pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga penelitian yang bersangkutan. Program tersebut melatih peneliti agar tidak bergantung pada sistem yang ada di pemerintahan. Jika sistem tersebut dapat menyita banyak waktu dari peneliti, maka disitulah letak kerja keras yang ingin ditumbuhkan pada setiap peneliti.

Nyaman atau tidak saat berada di dalam sistem tersebut, peneliti harus memiliki karakter yang tangguh. “Adapun harapan dari diadakannya training dan motivasi, hal tersebut akan mempermudah peneliti dalam menghasilkan karya. Sehingga para peneliti bisa survive untuk tetap menjadi peneliti dan pebisnis,” ucap pria berkacamata tersebut.

Sejatinya, ada alasan kuat mengapa seorang Muslim harus ada yang menjadi seorang ilmuan atau peneliti. Karena Allah dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertemu pertama kali dengan perintah membaca. “Iqra” begitu perintah Allah. Mendengarnya pun membuat Rasulullah gemetar disekujur tubuhnya. Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-Mu. Artinya, sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk berpikir. Karena berpikir adalah tanda adanya iman.

Muslim yang beriman, dalam setiap tindakan dan pikirannya selalu melibatkan Allah. Pribadi seperti itulah yang diharapkan dari seorang yang telah memiliki ilmu, terlebih para peneliti. Karena hal tersebut pula yang membedakan, ilmuan Muslim yang beriman dan ilmuan yang tidak beriman. Keimanan dari ilmuan Muslim menjadikan ilmu yang dimilikinya untuk mendekati Allah sedang ilmuan yang kurang atau bahkan tidak beriman, menjadi ilmu sebagai ajang memperebutkan tahta dunia. (susi)

 

Share this post

Facebook Twitter LinkedIn Google + Email

Author

Ayu Lestari

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Recent Posts

  • BKDI UPZ Petronas Salurkan Paket Ramadan dan Lebaran Melalui IZI untuk Ratusan Warga Prasejahtera di Kampung Makasar, Jakarta Timur 20 March 2026
  • IZI Bersama Jamaah Quran Best Salurkan Program Zakat Fitrah Wilayah Jawa Barat 20 March 2026
  • Menjelang Lebaran, Senyum Lansia Duafa di Pondok Labu Merekah Berkat Zakat Fitrah Donatur Tokopedia Melalui IZI 20 March 2026
  • Sinergi BI Solo Dan IZI Jawa Tengah Salurkan Paket Ramadan untuk Guru Ngaji dan Keluarga Duafa 20 March 2026
  • IZI dan CIMB Niaga Syariah Tebar Al-Qur’an, Dukung Semangat Hafalan Santri Little Gaza dan Majelis Taklim 20 March 2026

Recent Comments

  • Syamil Abyan on IZI Kaltim Bantu Yostina Terlepas Dari Lilitan Hutang
  • Syamil Abyan on 10 Pelaku Usaha Kecil di Besitang Terima Bantuan Modal Usaha dari Kemenag RI Sinergi Laznas IZI
  • Sabaruddinbusri on 10 Pelaku Usaha Kecil di Besitang Terima Bantuan Modal Usaha dari Kemenag RI Sinergi Laznas IZI
  • Syamil Abyan on Menemukan Rumah Singgah Pasien IZI, Ibu Dusri & Keluarga Bersyukur Bisa Lanjut Berobat
  • Miko jonni saputra on IZI Kaltim Bantu Yostina Terlepas Dari Lilitan Hutang

Categories

  • Adab (50)
  • Ayat of the Week (46)
  • Berita Media Nasional (4,172)
  • Edukasi dan Inspirasi Islami (431)
  • Ekonomi (223)
  • Event IZI (606)
  • Hadits of the Week (63)
  • IZI NEWS (5,317)
  • Keluarga (435)
  • Kesehatan (650)
  • Kisah Teladan (103)
  • Konsultasi (213)
  • Lain-lain (283)
  • Laporan Keuangan (5)
  • Motivasi (310)
  • Muda-Mudi (546)
  • Nuansa Keislaman (347)
  • Oase Iman (26)
  • Pendidikan (310)
  • Potret Amil (67)
  • Potret Dhuafa (1,198)
  • Potret Donatur (112)
  • Ramadhan (572)
  • Tanya Jawab Islam (134)
  • Tanya Jawab Muamalah (27)
  • uncategorized (1)
Lembaga Amil Zakat







Kantor Pusat

Alamat
Jl. Raya Condet No.27-G, Batu Ampar,
Kramat Jati, Jakarta Timur 13520

Jam Operasional Kantor
Senin – Jumat : 08.30 – 17.00 WIB




Kontak

Pusat Layanan dan Informasi
Telp : (021) 8778 7325, Whatsapp : 0812 1414 789
Fax : (021) 8778 7603
E-mail : [email protected]










Dana yang didonasikan melalui LAZNAS IZI bukan bersumber dan bukan untuk tujuan pencucian uang (money laundry), termasuk terorisme, gratifikasi, penyuapan, maupun tindak kejahatan lainnya












© 2026. Inisiatif Zakat Indonesia




Lembaga Amil Zakat Nasional Surat Keputusan Kementerian Agama RI
Nomor 1754 Tahun 2025