Perjalanan panjang IZI Riau menyalurkan Abon Kurban ke pelosok Kepulauan Meranti berbuahkan sebuah sajak oleh koordinator tim distribusi mereka.

Meranti-ku sayang

Mengkirau-ku malang

Kondisi pelabuhan yang memprihatinkan

Belum lagi kondisi air dan jalan yang banyak berlubang

Tapi apalah daya kami hanya kurir kebaikan. Penyambung amanah orang saleh bagi mereka yang membutuhkan

Penyambung amanah orang saleh bagi mereka yang membutuhkan

Rangkaian sajak tersebut tercipta dari sebuah keprihatinan Ghofur Muhammad Nur, Kepala Pendayagunaan IZI Riau, yang menyaksikan langsung kondisi Kepulauan Meranti, khususnya Desa Mengkirau yang jauh dari layak.

“Saat sampai di lokasi pihak kepala desa mempersilahkan kami berkeliling desa. Di sana kami melihat kondisinya yang memprihatinkan. Jalanan berlubang tak terurus. Air-air menggenang layaknya seduhan kopi,” ungkap Ghofur memberikan perumpamaan.

Perumpamaan Kepala Pendayagunaan IZI Riau itu merupakan metafora terkait kondisi air bersih di Desa Mengkirau, Kecamatan Tasik Putri Puyuh, Kabupaten Kepulauan Meranti yang tidak layak untuk dikonsumsi.

“Desa Mengkirau ini menadah hujan sebagai pasokan air bersih mereka. Sungai-sungai di sini berwarna hitam karena lansekap mereka rawa-rawa. Beberapa dari mereka membeli botol air mineral di seberang pulau,” tuturnya lagi.

Ajakan kepala desa kepada Tim IZI Riau berkeliling desa merupakan salah satu upaya mereka memperkenalkan kondisi yang sebenarnya terjadi di desa mereka. Pelabuhan yang lapuk menandakan pembangunan infrastruktur terjadi begitu lambat.

Sebagian besar warga berprofesi sebagai tenaga kerja migran di Malaysia. Mereka kini tak lagi dapat menyebrang dikarenakan keputusan pemerintah negara jiran itu menolak sementara warga Indonesia berkunjung akibat pandemi Covid-19.

Ghofur Muhammad Nur ingin membantu lebih demi memenuhi kebutuhan warga desa pelosok Kepulauan Meranti di sana. Namun kesadarannya sebagai manusia biasa hanya mampu menjalankan misinya menyalurkan Abon Kurban kepada kaum dhuafa di sana.

“Saya yakin, dengan zakat kaum muslimin Indonesia, persoalan warga pelosok Kepulauan Meranti ini dapat terselesaikan. Karena kepedulian ini bukan kerja personal, tetapi kepedulian bersama memudahkan kaum dhuafa, agar kita kelak dimudahkan dunia-akhirat,” tutup Ghofur. (Ed)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.