RSP IZI Sumatera Utara Gelar Pembinaan Keislaman tentang Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al-Qur’an

Sumatera Utara – Rumah Singgah Pasien (RSP) IZI Sumatera Utara kembali menggelar pembinaan keislaman rutin pada Rabu (9/9/26). Kegiatan kali ini mengangkat tema “Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al-Qur’an” yang disampaikan oleh Ustadz Alexander Zulkarnaen. Kegiatan tersebut diikuti oleh para pasien dan pendamping pasien yang tengah menjalani ikhtiar pengobatan di RSUP H. Adam Malik, Kota Medan. Kajian disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga dapat diterima oleh peserta dari berbagai latar belakang.

Dalam kajiannya, Ustadz Alexander menjelaskan bahwa seorang muslim memiliki enam kewajiban terhadap Al-Qur’an. Kewajiban tersebut bukan hanya sekadar membaca, tetapi juga mencakup bagaimana seorang muslim beriman, memahami, menghafal, mengamalkan, hingga mengajarkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, beriman kepada Al-Qur’an dengan sepenuh hati. Ustadz menjelaskan bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu rukun iman, yaitu rukun iman yang ke 3. Seorang muslim wajib meyakini seluruh isi Al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT. Beliau juga mengingatkan bahwa sesuatu yang mulia akan memuliakan apa yang dekat dan menyertainya, sebagaimana kemuliaan Malaikat Jibril yang membawa wahyu dan bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.

Kedua, membaca Al-Qur’an. Salah satu bentuk bukti keimanan kepada Al-Qur’an adalah dengan senantiasa membacanya. Ustadz memotivasi peserta untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an secara rutin dan berurutan, dari juz 1 hingga juz 30, serta berusaha mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Beliau juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan syifa, yaitu obat dan penawar bagi hati. Karena itu, di tengah berbagai ujian kehidupan, termasuk ujian sakit yang sedang dihadapi para pasien, membaca Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperoleh ketenangan hati. Dalam sebuah kutipan, “Sekurang-kurangnya kita mengkhatamkan Al-Qur’an, sebanyak usia kita”.

Ketiga, mentadabburi Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an hendaknya tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga disertai usaha untuk memahami dan menghayati maknanya. Ustadz mengajak peserta untuk membaca terjemahan Al-Qur’an, memahami artinya, kemudian meresapi pesan yang terkandung di dalamnya. Keempat, menghafal Al-Qur’an sesuai kemampuan. Ustadz mengajak para peserta untuk berusaha menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak harus langsung menghafal 30 juz, namun dapat dimulai dari surah-surah pendek dalam Juz ‘Amma. Beliau mengingatkan bahwa hati seorang mukmin hendaknya senantiasa dihiasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan menghafal dan mengulang hafalan, seorang muslim juga terus menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an.

Kelima, mengamalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan dihafalkan, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ustadz mengajak peserta untuk meneladani Rasulullah SAW dalam mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Akhlak Rasulullah SAW merupakan gambaran nyata dari nilai-nilai Al-Qur’an yang diterapkan dalam kehidupan. Akhlaq Rasulullah, adalah akhlaq Qur’an, ibarat Qur’an yang berjalan.

Keenam, mengajarkan dan mendakwahkan Al-Qur’an. Setelah belajar dan berusaha mengamalkannya, seorang muslim juga memiliki tanggungjawab untuk menyampaikan kebaikan Al-Qur’an kepada orang lain sesuai dengan kemampuan. Ustadz turut mengingatkan sebuah hadits yang berbunyi, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Pesan tersebut menjadi motivasi bagi peserta untuk tidak berhenti belajar, tetapi juga berbagi ilmu dan kebaikan yang telah dipelajari.

Di akhir kajian, Ustadz Alexander kembali mengingatkan para pasien dan pendamping untuk senantiasa menjaga hubungan dengan Allah SWT dan mempererat kedekatan dengan Al-Qur’an. Terlebih ketika sedang menghadapi ujian sakit, peserta diajak untuk semakin memperbanyak membaca Al-Qur’an agar hati memperoleh ketenangan serta memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalani setiap ujian. Pembinaan keislaman berlangsung dengan penuh perhatian dan antusiasme dari para peserta. Bagi pasien dan pendamping, kajian ini menjadi salah satu ruang untuk menambah ilmu sekaligus mendapatkan penguatan spiritual di tengah proses pengobatan dan perjuangan menghadapi ujian.

Melalui pembinaan keislaman yang rutin dilaksanakan, Rumah Singgah Pasien IZI Sumatera Utara terus berupaya menghadirkan pendampingan yang tidak hanya mendukung kebutuhan selama masa pengobatan, tetapi juga memberikan ketenangan dan penguatan iman. Semoga Al-Qur’an senantiasa menjadi sahabat, petunjuk, dan sumber ketenangan bagi setiap pasien dan pendamping dalam menjalani setiap proses kehidupan.

[Fazliyah Nurhafshah Gultom – @inisiatifzakat_sumut]