Depok – Klinik Utama Rawat Jalan Hemodialisa IZI menggelar kegiatan Sharing Session dengan tema “Strategi Pengembangan Socio Entrepreneur Klinik Hemodialisa IZI.” Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, dr. Veronika Hardianti, MARS, yang saat ini menjabat sebagai Direktur RS Medical Care Kemang di Jakarta Selatan, untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan fasilitas kesehatan yang profesional, berkelanjutan, dan berorientasi pada manfaat sosial.
Acara yang dihadiri oleh Aan Suherlan sebagai Direktur Pendistribusian dan Pemberdayaan Zakat IZI, Direktur Iwakaf Dedy Fenalosa, dr. Deny Firmansyah sebagai Kepala Klinik Hemodialisa IZI, tenaga kesehatan, serta pengurus Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) ini bertujuan merumuskan arah pengembangan Klinik Hemodialisa IZI sebagai model layanan kesehatan berbasis Socio Entrepreneur, yaitu menggabungkan misi sosial dengan tata kelola bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dalam paparannya, dr. Veronika menegaskan bahwa keberhasilan sebuah fasilitas kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kualitas layanan medis, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam membangun sistem operasional yang efisien, sumber daya manusia yang unggul, serta model bisnis yang mampu menjamin keberlangsungan pelayanan jangka panjang.
Menurut beliau, konsep socio entrepreneur sangat relevan diterapkan pada layanan hemodialisa karena kebutuhan pasien gagal ginjal bersifat berkelanjutan dan membutuhkan pendampingan yang komprehensif. Melalui pendekatan tersebut, klinik tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup pasien. “Klinik Hemodialisa IZI memiliki peluang besar untuk menjadi model layanan kesehatan sosial yang profesional. Kunci keberhasilannya terletak pada kualitas pelayanan, pengelolaan yang transparan, inovasi, dan keberpihakan kepada pasien yang membutuhkan,” ujar dr. Veronika.

Pada sesi diskusi, peserta membahas sejumlah strategi pengembangan Klinik Hemodialisa IZI, antara lain:
1. Penguatan tata kelola organisasi dan manajemen klinik.
2. Pengembangan layanan hemodialisa yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.
3. Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi.
4. Optimalisasi kerja sama dengan BPJS Kesehatan, rumah sakit rujukan, dan dokter spesialis.
5. Pengembangan program edukasi dan pendampingan pasien penyakit ginjal kronik.
6. Pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional.
7. Diversifikasi sumber pendanaan untuk menjaga keberlanjutan layanan sosial.
Selain itu, dr. Veronika menekankan pentingnya menyusun roadmap pengembangan Klinik Hemodialisa IZI dalam lima tahun ke depan yang mencakup penguatan layanan hemodialisa, pengembangan CKD Center (Chronic Kidney Disease Center), peningkatan jejaring rujukan, serta pengembangan program pemberdayaan pasien dan keluarga.
Kegiatan sharing session ini menjadi momentum penting bagi Klinik Hemodialisa IZI dalam memperkuat visi sebagai klinik hemodialisa yang berkualitas, amanah, profesional, dan berkelanjutan. Melalui konsep socio entrepreneur, diharapkan Klinik Hemodialisa IZI mampu menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas sekaligus memberikan dampak sosial yang luas bagi masyarakat, khususnya pasien penyakit ginjal kronik. Konsep ini sejalan dengan pentingnya tata kelola fasilitas kesehatan yang berfokus pada keselamatan pasien, kualitas layanan, dan keberlanjutan organisasi sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam regulasi pengelolaan Rumah Sakit yang berstandar nasional.
Dengan semangat “Melayani dengan Hati, Berkualitas dalam Tindakan, amanah, dan Berkelanjutan dalam Pengelolaan”, Klinik Utama Rawat Jalan Hemodialisa IZI berkomitmen untuk menjadi pelopor layanan hemodialisa berbasis socio entrepreneur yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan terbaik, tetapi juga menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi umat dan masyarakat Indonesia.