Semarang – Sejak Juli 2026, Ani Widiastuti (45) menjalani radioterapi di RSUP Dr. Kariadi setelah sebelumnya didiagnosis kanker payudara pada akhir 2025. Berawal dari benjolan yang dirasakan pada Oktober 2025, Ani menjalani operasi dan biopsi di rumah sakit daerah hingga akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi pada Desember 2025. Ia mengira pengobatan akan segera dimulai, namun harus menunggu hingga Juli 2026 untuk memulai terapi sinar yang dijadwalkan sebanyak 16 kali sebelum dilakukan evaluasi.

Selama masa kontrol, Ani dan suaminya selalu berangkat dari Kabupaten Kendal dengan mengendarai sepeda motor menuju Terminal Kaliwungu, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum ke RSUP Dr. Kariadi. Cara tersebut masih memungkinkan ketika kontrol hanya berlangsung satu hari. Namun ketika dokter menjadwalkan radioterapi setiap hari, mereka mulai memikirkan tempat tinggal sementara di Semarang. Beruntung, dari obrolan dengan sesama pasien di rumah sakit, Ani mendapatkan informasi mengenai Rumah Singgah Pasien IZI Jawa Tengah. Saat dihubungi, tersedia kamar kosong sehingga ia dan suami dapat langsung singgah selama menjalani pengobatan.

Sebelum mengetahui Rumah Singgah Pasien IZI Jawa Tengah, Ani pernah mengalami masa sulit ketika harus kembali kontrol keesokan harinya namun tidak memiliki tempat bermalam. Saat itu, ia dan suami terpaksa menginap di serambi masjid RSUP Dr. Kariadi karena belum mengetahui adanya layanan rumah singgah.

“Saya tidak pernah menyangka akan berobat ke Kariadi seperti ini. Dulu saya hanya pernah ke sini untuk menjenguk saudara yang sakit, sekarang saya sendiri yang harus berikhtiar berobat. Rasanya sedih, tetapi saya tetap bersyukur karena banyak sekali kemudahan yang Allah berikan. Waktu harus berobat setiap hari, saya sempat bingung mencari tempat tinggal, lalu mendapat informasi tentang Rumah Singgah IZI. Saya dan keluarga sangat terbantu. Terima kasih banyak untuk semua bantuannya,” ungkap Ani.

Sebelum sakit, Ani dan suaminya sehari-hari bekerja sebagai petani di kebun milik sendiri, sementara ketiga anak mereka menempuh pendidikan di pesantren. Meski sesekali rindu rumah, memikirkan ladang, dan merindukan anak-anak, Ani tetap menjalani pengobatan dengan penuh semangat. Ia juga bersyukur karena selama proses pengobatan keluarganya selalu diberi kecukupan tanpa harus berutang. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan, kelancaran, dan kesembuhan kepada Ani, sehingga dapat segera kembali berkumpul bersama keluarga dan beraktivitas seperti sedia kala.