Inisiatif Zakat IndonesiaInisiatif Zakat Indonesia
  • Beranda
  • Kenali IZI
  • Layanan
    • Pembayaran
    • Donatur
    • Mustahik
  • Tata Kelola
    • Hasil Audit
      • Audit Syariah
      • Audit Keuangan
      • Audit ISO
    • Kebijakan ISO
      • Pedoman Manajemen Risiko
      • Pakta Integritas
      • Kebijakan Anti Penyuapan
      • Kebijakan Mutu
    • Whistle Blowing System
Search
  • Beranda
  • Kenali IZI
  • Layanan
    • Pembayaran
    • Donatur
    • Mustahik
  • Tata Kelola
    • Hasil Audit
      • Audit Syariah
      • Audit Keuangan
      • Audit ISO
    • Kebijakan ISO
      • Pedoman Manajemen Risiko
      • Pakta Integritas
      • Kebijakan Anti Penyuapan
      • Kebijakan Mutu
    • Whistle Blowing System
Custom MessageSpecial Offer!Buy this Theme!HOT

Tanggapan Beragam, Dhuafa dan Pekerja Informal Bicara Pemberlakuan PSBB

dhul.ikhsan2020-04-09T23:39:03+07:00
dhul.ikhsan IZI NEWS Corona, covid-19, inisiatif zakat, inisiatif zakat indonesia, PSBB 0 Comments

Untuk mencegah penularan Covid-19 di tengah-tengah masyarakat, Pemerintah Indonesia menerapkan kontrol sosial bernama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penerapannya dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah setempat, dan wajib dilaksanakan oleh setiap warganya.

  • Pekerja informal
    Setiap dhuafa dan pekerja informal memiliki pandangannya sendiri terkait pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tim IZI merangkumnya. Dok IZI

Provinsi DKI Jakarta merupakan yang pertama kali memberlakukan kontrol sosial tersebut pada tanggal 10 April besok. Protokol ini juga akan diikuti oleh provinsi lainnya, seperti halnya Jawa Barat.

Beberapa di antara aturan PSBB adalah pembatasan jumlah penumpang dalam satu unit kendaraan pribadi maupun umum. PSBB juga mengatur kegiatan berkumpul dalam satu wilayah yang dibatasi maksimal lima orang saja.

Ketatnya aturan PSBB memiliki dampak hukum bagi pelanggarnya. Di satu sisi, meski roda ekonomi tetap berjalan, pekerja informal harus mencari celah baru agar mampu bertahan di kondisi serba sulit seperti ini.

Di beberapa kesempatan, Inisiatif Zakat Indonesia yang ikut melakukan asesmen dan penyaluran bantuan hadapi wabah Covid-19 berinteraksi dengan para dhuafa dan pekerja informal. Melalui mereka terekam beberapa informasi terkait kondisi selama wabah ini berlangsung.

Pengemudi Ojek Daring

  • Iwan, ojol
    Iwan, driver ojek online saat mendapatkan edukasi PHBS oleh tim IZI. Dok. IZI

Bagi Iwan maupun Heni Desmianti (57) yang sama-sama pengemudi ojek daring, kemunculan pandemi Covid-19 merupakan masa-masa sulit. Orderan sepi. Diakui sendiri oleh Iwan bahwa orderan sekali dalam sehari bisa menjadi begitu langka.

Iwan yang juga tergabung di dalam komunitas Serikat Pekerja Ojek Daring (Speed) ikut mencermati dinamika perkembangan isu wabah virus corona ini, terutama pemberlakuan PSBB yang segera dilaksanakan Pemprov DKI Jakarta besok.

“Saya, selama dari pihak penyedia aplikasi tidak mengunci permintaan penumpang, tetap akan ambil pak. Saya memang akan lebih memilih pengiriman makanan atau barang, sesuai anjuran pemerintah. Tapi kalau dari perusahaan aplikasinya masih buka penumpang, saya ambil,” tuturnya dilematis.

Pekerja jalanan semacam pengendara ojek daring memiliki dua kemungkinan di tengah pandemi Covid-19, mati karena kelaparan atau mati akibat terpapar virus mematikan tersebut. Hal itu sama-sama diakui Iwan juga Heni.

Sedangkan Heni sendiri lebih memilih gunakan cara yang lebih aman.

  • Ojek Online
    “Tanggapan Beragam, Dhuafa dan Pekerja Informal Bicara Pemberlakuan PSBB” – Heni, salah satu driver Ojol peneria manfaat.

“Saya yang penting waspada. Tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan pelanggan, menggunakan masker tiap beraktivitas ke luar, dan terima orderan dari rumah saja,” aku single parent tersebut.

Pada dasarnya ibu 5 (lima) anak ini khawatir juga terjangkit virus corona. Heni mengerti untuk tidak terlalu banyak beraktivitas ke luar rumah. Akan tetapi, tugasnya selaku pengendara ojek daring memaksanya untuk tidak membatasi diri melayani orderan pelanggan.

Guru PAUD

Farahdara Drian Iqlima (34) memiliki aktivitas rutin sebagai Guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Buah Menteng 01, Jakarta Pusat. Di sela-sela kegiatannya, perempuan keturunan asli Aceh itu mencari penghasilan dengan menjadi penulis konten dan mengajar privat.

Semenjak pengumuman isu positif Covid-19 pada Maret lalu, rutinitas yang diakukannya mulai menjauh darinya. Murid-murid PAUD Buah Menteng 01 dirumahkan, rumah makan cepat saji yang biasa digunakannya mengajar privat tak lagi menerima pelanggan makan di tempat, begitupun panggilan menulis lepas susah dicari.

  • Farah saat mengajar anak-anak PAUD Buah Menteng 01 sebelum merebaknya wabah Covid-19.

“Di PAUD, orangtua pada belum bisa bayaran. Boro-boro buat bayaran, deh. Buat hidupin keluarga pada kewalahan. Minggu pertama masih, ok. Sekarang udah pada keok buat kirim tugas anaknya. Daripada buat beli kuota internet, mending buat isi perut sendiri,” keluhnya.

Ia mempertanyakan efektivitas pemberlakuan kontrol sosial PSBB di ibukota. Hal itu disebabkan kebutuhan pokok warga belum mendapatkan jaminan dari pihak terkait.

“Kemarin saya ke pasar. Ada kejadian rebutan makanan sesama Ojol dari donasi keliling. Terus, tetangga saya cerita, kemarin dapat kupon buat ambil makanan di warteg. Kuponnya dirampas sama warga, dong. Yang kayak gitu ngga ada yang tahu kan? Tapi hal-hal gitu benar-benar terjadi di masyarakat,” ia mengisahkan.

Pekerja Tunanetra

Hariyanti (43) menjadi tunanetra semenjak lahir. Sebagai disabilitas, warga domisili Joglo, Jakarta Barat, itu beraktivitas sebagai tukang urut dan menjajakan dagangan kerupuk di pinggir jalan.

  • Hariyanti
    “Tanggapan Beragam, Dhuafa dan Pekerja Informal Bicara Pemberlakuan PSBB” – Hariyanti, (paling kanan) salah satu penerima manfaat tunanetra. Dok. IZI

Dampak kehadiran wabah Covid-19 di ibukota Jakarta tak pandang bulu. Usaha dan aktivitas kesehariannya tidak lagi memberikan hasil.

“Yang mau urut ketakutan. Dagang kerupuk  sudah sepi. Jauh pendapatannya dari yang kemarin. Sekarang aja pabrik kerupuk sudah tutup. Mereka hanya menjual sisa-sisa produksi terakhir,” Hariyanti mengungkapkan.

Ketika bertemu Hariyanti saat pembagian paket sembako untuknya hadapi dampak Covid-19, Tim IZI menyadari bahwa ia tidak segan melakukan kontak fisik dengan orang-orang dan barang-barang sekitarnya. Hal itu disebabkan Hariyanti melihat dengan inderanya yang lain.

Sebagai tunanetra ia memahami aturan pembatasan interaksi sosial dari pemerintah itu. Hariyanti juga dapat membayangkan toko-toko akan tutup, jalanan juga akan sepi, dan suaminya tak akan lagi bisa mengamen demi sesuap nasi.

Saat pembagian paket sembako, Hariyanti dan rekan-rekannya sesama tunanetra tidak menggunakan alat pelindung diri. Mereka akui tidak terbiasa menggunakan APD, karena akan membuatnya kesulitan mengenal lingkungan yang ada di sekitarnya.

“Sumpek aja gitu. Pasrah aja, saya mah. Saya percaya sama keajaiban Allah saja,” tutur Hariyanti. (ED)

Share this post

Facebook Twitter LinkedIn Google + Email

Author

dhul.ikhsan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Recent Posts

  • BKDI UPZ Petronas Salurkan Paket Ramadan dan Lebaran Melalui IZI untuk Ratusan Warga Prasejahtera di Kampung Makasar, Jakarta Timur 20 March 2026
  • IZI Bersama Jamaah Quran Best Salurkan Program Zakat Fitrah Wilayah Jawa Barat 20 March 2026
  • Menjelang Lebaran, Senyum Lansia Duafa di Pondok Labu Merekah Berkat Zakat Fitrah Donatur Tokopedia Melalui IZI 20 March 2026
  • Sinergi BI Solo Dan IZI Jawa Tengah Salurkan Paket Ramadan untuk Guru Ngaji dan Keluarga Duafa 20 March 2026
  • IZI dan CIMB Niaga Syariah Tebar Al-Qur’an, Dukung Semangat Hafalan Santri Little Gaza dan Majelis Taklim 20 March 2026

Recent Comments

  • Syamil Abyan on IZI Kaltim Bantu Yostina Terlepas Dari Lilitan Hutang
  • Syamil Abyan on 10 Pelaku Usaha Kecil di Besitang Terima Bantuan Modal Usaha dari Kemenag RI Sinergi Laznas IZI
  • Sabaruddinbusri on 10 Pelaku Usaha Kecil di Besitang Terima Bantuan Modal Usaha dari Kemenag RI Sinergi Laznas IZI
  • Syamil Abyan on Menemukan Rumah Singgah Pasien IZI, Ibu Dusri & Keluarga Bersyukur Bisa Lanjut Berobat
  • Miko jonni saputra on IZI Kaltim Bantu Yostina Terlepas Dari Lilitan Hutang

Categories

  • Adab (50)
  • Ayat of the Week (46)
  • Berita Media Nasional (4,172)
  • Edukasi dan Inspirasi Islami (431)
  • Ekonomi (223)
  • Event IZI (606)
  • Hadits of the Week (63)
  • IZI NEWS (5,317)
  • Keluarga (435)
  • Kesehatan (650)
  • Kisah Teladan (103)
  • Konsultasi (213)
  • Lain-lain (283)
  • Laporan Keuangan (5)
  • Motivasi (310)
  • Muda-Mudi (546)
  • Nuansa Keislaman (347)
  • Oase Iman (26)
  • Pendidikan (310)
  • Potret Amil (67)
  • Potret Dhuafa (1,198)
  • Potret Donatur (112)
  • Ramadhan (572)
  • Tanya Jawab Islam (134)
  • Tanya Jawab Muamalah (27)
  • uncategorized (1)
Lembaga Amil Zakat







Kantor Pusat

Alamat
Jl. Raya Condet No.27-G, Batu Ampar,
Kramat Jati, Jakarta Timur 13520

Jam Operasional Kantor
Senin – Jumat : 08.30 – 17.00 WIB




Kontak

Pusat Layanan dan Informasi
Telp : (021) 8778 7325, Whatsapp : 0812 1414 789
Fax : (021) 8778 7603
E-mail : [email protected]










Dana yang didonasikan melalui LAZNAS IZI bukan bersumber dan bukan untuk tujuan pencucian uang (money laundry), termasuk terorisme, gratifikasi, penyuapan, maupun tindak kejahatan lainnya












© 2026. Inisiatif Zakat Indonesia




Lembaga Amil Zakat Nasional Surat Keputusan Kementerian Agama RI
Nomor 1754 Tahun 2025