Sahabat IZI, Ramadhan sebentar lagi mencapai puncaknya. Sepuluh malam terakhir menjadi momen yang paling istimewa. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr.
I’tikaf menjadi salah satu cara terbaik untuk meraih keberkahan malam tersebut. Rasulullah SAW senantiasa melakukan I’tikaf di sepuluh malam terakhir sepanjang hidupnya. Ini adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, dan meraih ampunan-Nya sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Aidyah RA:
Biasanya (Nabi sallallahu’alaihi wa sallam) beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” (HR Bukhari 2026 dan Muslim 1172)
Keutamaan I’tikaf sangat besar. Bagi siapa yang menjalankannya dengan niat yang ikhlas, Allah akan memberikan pahala yang berlimpah. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang berI’tikaf satu hari karena mencari keridhaan Allah, maka Allah akan menjauhkan dia dari neraka sejauh tiga parit, setiap parit lebih jauh dari jarak antara timur dan barat” (HR Thabrani 5566 dan Baihaqi 8706).
I’tikaf juga menjadi sarana untuk memperoleh ketenangan hati, menjauhkan diri dari kesibukan dunia, dan lebih fokus pada ibadah.
Tata Cara dan Panduan I’tikaf
Agar I’tikaf lebih maksimal, berikut beberapa panduan dan tata caranya:
- Niat yang Ikhlas
Agar I’tikaf bernilai ibadah, perlu disertai niat yang ikhlas kepada Allah. Tanpa niat tersebut, seseorang mungkin hanya sekadar berdiam di masjid tanpa mendapat pahala I’tikaf.
- Dilakukan di Masjid
Dalam keadaan normal dan aman, i’tikaf itu dilakukan di masjid. Hal itu sesuai dengan firman Allah: “Janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istri) itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS Al-Baqarah: 187). Masjid yang digunakan untuk I’tikaf sebaiknya masjid yang diadakan shalat berjamaah (mushala), dan jika memungkinkan di masjid yang juga diadakan shalat jumat di dalamnya.
- Mengisi Waktu dengan Ibadah
Selama I’tikaf, hendaknya memperbanyak shalat sunnah, tilawah Alquran, dzikir, dan doa. Hendaknya menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat seperti berbicara tanpa keperluan. Bisa juga selama I’tikaf diisi dengan aktivitas lain seperti mendengarkan kajian agama atau membaca buku Islami.
- Tidak Keluar Masjid Kecuali Ada Keperluan
Namun dalam beberapa kondisi darurat atau kebutuhan mendesak, sebagian ulama memberi keringanan sesuai niat dan keadaan seperti untuk makan, minum, atau untuk hajat. Apabila keluar tanpa alasan yang diperbolehkan maka I’ikafnya dianggap batal. Untuk itu, sebaikya mempersiapkan perlengkapan secukupnya agar tidak sering keluar masjid.
- Berusaha Mendapatkan Lailatul Qadr
Malam penuh berkah ini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Rasulullah bersabda, “Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhari 2017). Ketika sudah memasuki sepuluh malam terakhir, hendaknya memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (HR Tirmidzi 3513).
- Menjaga Kesabaran dan Keikhlasan
Melatih sabar dan ikhlas melalui pengendalian lisan, maka hindarilah perdebatan dan perbuatan sia-sia selama I’tikaf. Fokus pada introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Sahabat IZI, I’tikaf bukan hanya duduk berdiam di masjid, tapi i’tikaf adalah momen untuk lebih dekat dengan Allah, menghidupkan hati, dan meraih ampunan-Nya. I’tikaf juga dapat menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah di masjid, saling menasihati dalam kebaikan, dan menjaga lingkungan masjid agar nyaman untuk semua jamaah. Bagi yang tidak bisa beri’tikaf karena kondisi tertentu, jangan berkecil hati. Allah tetap memberikan pahala besar bagi hamba-Nya yang ikhlas menjalani peran masing-masing dalam kehidupan.
Yuk, manfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan ini sebaik-baiknya!
Ayu L Mukhlis
Sumber : www.hadits.id | m.islamqa.info
Leave a Reply