Sumatera Utara – Rahmad Alfarizi Siregar, atau yang akrab disapa Rizi, seharusnya dapat menjalani hari-harinya seperti anak-anak seusianya. Bermain, belajar, dan bercanda bersama keluarga menjadi bagian dari masa kecilnya. Namun, sebuah peristiwa saat bermain di area masjid, tepatnya pada Maret 2026, mengubah keseharian bocah berusia tujuh tahun asal Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan tersebut. Saat itu, Rizi tengah bermain di area tangga masjid. Naas, ia terpeleset dan jatuh dari tangga dengan ketinggian kurang lebih 1,5 meter. Secara spontan, tangan kiri Rizi menopang tubuhnya saat terjatuh. Kakak Rizi yang saat itu juga berada di masjid kemudian menggendong sang adik pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Rizi terus meminta maaf kepada ibunya karena sebelumnya tidak mengindahkan nasihat sang kakak agar tidak bermain di area tangga.
Namun, setelah kejadian tersebut, kondisi tangan kiri Rizi tidak kunjung membaik. Selama lebih dari dua bulan, tangannya tidak dapat ditekuk dan perlahan mengalami pembengkakan. Pada awalnya, keluarga hanya memberikan salep pada bagian tangan yang sakit. Akan tetapi, karena tidak menunjukkan perubahan yang berarti, orangtua Rizi akhirnya memutuskan untuk membawa putra mereka berobat ke Medan. Rizi sempat dirujuk ke RS Mitra Sejati. Namun, karena keterbatasan fasilitas untuk menangani kondisinya, ia kembali dirujuk ke RSUP H. Adam Malik Medan untuk mendapatkan penanganan yang lebih lengkap. Di RSUP H. Adam Malik Medan, Rizi menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari rontgen, CT scan, hingga pemeriksaan darah. Setelah menjalani proses pemeriksaan dan perawatan selama kurang lebih satu bulan, Rizi akhirnya menjalani tindakan operasi pada 11 Agustus 2026.
Dalam tindakan tersebut, dokter memasang dua pen pada bagian lengan Rizi untuk membantu menyatukan kembali tulang yang retak agar dapat pulih dan kembali berfungsi dengan baik. Dokter juga menjelaskan bahwa apabila penanganan medis terlambat dilakukan, kondisi tulang yang retak dikhawatirkan dapat semakin memburuk dan berisiko menimbulkan gangguan permanen pada fungsi tangan Rizi. Saat ini, Rizi masih harus menjalani kontrol rutin selama kurang lebih dua bulan. Setelah masa pemulihan dan kondisi tulangnya membaik, Rizi direncanakan akan kembali menjalani tindakan untuk mengangkat pen yang masih terpasang di lengannya.

Muhammad Halim Siregar, ayah Rizi yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak motor dan bertani, sempat dilanda kebingungan memikirkan proses pengobatan sang anak sekaligus mencari tempat tinggal sementara selama berada di Medan, hingga sang istri yang juga bekerja sebagai petani turut merasakan kekhawatiran yang sama. Di tengah kebingungan tersebut, keluarga Rizi akhirnya memperoleh informasi mengenai Rumah Singgah Pasien (RSP) Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Sumatera Utara, dan Halim merasa sangat bersyukur ketika keluarganya diterima untuk tinggal sementara di sana selama Rizi menjalani pengobatan dan perawatan di RSUP H. Adam Malik Medan. Bagi keluarga yang juga memiliki seorang anak perempuan yang kini duduk di bangku kelas VI sekolah dasar, kehadiran Rumah Singgah Pasien menjadi jawaban di tengah kekhawatiran mereka, sehingga kini tak lagi perlu memikirkan biaya dan tempat tinggal selama mendampingi Rizi menjalani proses pengobatan.
Dengan penuh rasa syukur, Muhammad Halim Siregar menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rumah Singgah Pasien IZI Sumatera Utara serta para donatur yang telah menjadi bagian dari perjuangan pengobatan putranya. “Alhamdulillah, saya berterima kasih banyak kepada RSP IZI. Mudah-mudahan ke depannya semakin maju dan semakin meningkat. Saya berterima kasih banyak kepada RSP IZI ini. Kalau tidak ada RSP ini, tidak tahu lagi, sudah memikirkan anak berobat, memikirkan tempat tinggal lagi. Saya bersyukur sekali kepada donatur-donatur IZI. Semoga panjang umur dan dimurahkan rezekinya,” ungkap Halim.
RSP IZI Sumatera Utara berupaya menjadi tempat persinggahan yang nyaman bagi pasien rujukan dan pendamping dari berbagai daerah yang berobat di Kota Medan, sekaligus meringankan beban keluarga akan tempat tinggal sementara. Kisah Rizi menggambarkan perjuangan orang tua memberikan yang terbaik bagi anaknya, di tengah kekhawatiran biaya pengobatan dan kehidupan, sehingga kepedulian banyak pihak menjadi penguat bagi keluarga. Semoga Rizi segera pulih, tulang lengannya berfungsi baik kembali, dan dapat kembali menikmati masa kecilnya dengan ceria. Semoga pula kebaikan para donatur dibalas Allah SWT dengan kesehatan, keberkahan, dan rezeki berlipat ganda. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
[Fazliyah Nurhafshah Gultom – @inisiatifzakat_sumut]




