Rambut Rontok Karena Kemoterapi, Tak Lunturkan Semangat Ningsih Pasien RSP IZI Jateng untuk Sembuh
Semarang – Di usia 57 tahun, Ningsih, warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tengah berjuang melawan kanker serviks yang dideritanya. Ia harus menjalani serangkaian terapi radiasi dan kemoterapi secara rutin di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Perjuangan tersebut dijalaninya dengan penuh keteguhan meski tanpa dampingan keluarga. Suaminya yang kini berusia 67 tahun tidak dapat menemaninya karena menderita diabetes menahun hingga salah satu kakinya harus diamputasi akibat luka yang tak kunjung sembuh. Sementara itu, anak semata wayangnya tinggal jauh di Bangka Belitung dan baru saja dikaruniai seorang anak, sehingga belum dapat mendampingi ibunya selama proses pengobatan.

Sebelum sakit, keluarga Ningsih menggantungkan hidup dari pekerjaan suaminya sebagai sopir truk. Ningsih sendiri membantu anaknya berjualan sembako di rumah untuk menambah penghasilan keluarga. Ketika penyakit datang, kondisi keluarga membuatnya memilih menjalani pengobatan secara mandiri. Dengan tekad yang kuat, ia tidak ingin merepotkan anggota keluarga lain, sehingga tetap berusaha menjalani setiap tahapan pengobatan dengan penuh kesabaran dan kemandirian.
Salah satu momen yang paling ia rasakan selama menjalani kemoterapi adalah ketika rambutnya mulai rontok. Awalnya, ia mengaku sedih melihat rambutnya semakin menipis setiap hari. Namun perlahan, ia mencoba menerima kondisi tersebut sebagai bagian dari ikhtiar untuk sembuh. “Waktu rambut mulai rontok rasanya sedih juga, tapi saya pikir tidak apa-apa. Yang penting saya bisa berobat dan berusaha sembuh,” ungkap Ningsih dengan senyum yang tetap menguatkan dirinya sendiri.

Di tengah perjuangannya, Ningsih merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan Rumah Singgah IZI yang kini menjadi “rumah kedua” baginya selama menjalani pengobatan di Semarang. Kehadiran para pasien dan pendamping lain membuatnya tidak merasa sendiri. Ia bahkan telah menganggap mereka seperti keluarga yang saling menguatkan dalam menghadapi masa sulit. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa tinggal di Rumah Singgah IZI. Di sini saya tidak merasa sendirian. Banyak teman-teman yang baik, sudah seperti keluarga. Saya juga bisa ikut belajar mengaji, jadi hati lebih tenang,” tutur Ningsih.
Ia berharap kebaikan para donatur dan pengelola Rumah Singgah IZI mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. “Semoga semua yang sudah membantu Rumah Singgah IZI diberi kesehatan dan rezeki yang berkah. Saya sangat berterima kasih karena di masa sulit ini masih dipertemukan dengan banyak orang baik,” pungkas Ningsih penuh haru.
[RSPIZIJTG]
