Reo – Tak sedikit mata yang berkaca-kaca saat doa dipanjatkan dalam prosesi peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Hikmah di Reo, Kabupaten Manggarai, NTT. Di wilayah yang umat Islamnya merupakan kelompok minoritas, momen ini bukan sekadar menandai dimulainya pembangunan sebuah masjid, tetapi juga menjadi penanda kuatnya persaudaraan, toleransi, dan semangat saling mendukung yang tumbuh di tengah keberagaman masyarakat.
Acara yang berlangsung penuh khidmat tersebut dihadiri oleh Direktur Utama Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Wildhan Dewayana, GM Pendistribusian IZI Arman, Camat Reok Ritaudin, SP, Kepala KUA Kecamatan Reok Ahmad Ali, S.Ag, unsur Danramil Reok, Kapolsek Reok, Lurah Reo Romoaldus R. Nanggo, SH, para imam masjid, pimpinan yayasan Islam, alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, RT, RW, serta tokoh pemuda setempat. Kehadiran unsur Muspika Kecamatan Reok bersama para tokoh agama dan masyarakat menjadi bukti nyata bahwa pembangunan Masjid Nurul Hikmah mendapat dukungan besar dari berbagai elemen. Suasana kebersamaan yang terjalin menghadirkan pesan indah bahwa perbedaan tidak pernah menjadi penghalang untuk saling membantu dan menguatkan.

Lebih istimewa lagi, tanah tempat berdirinya Masjid Nurul Hikmah merupakan wakaf dari Leonardu Chandra, seorang warga Nasrani yang dengan tulus menghibahkan lahannya untuk pembangunan rumah ibadah umat Islam. Keteladanan ini menggetarkan hati dan menjadi simbol hidupnya nilai-nilai kemanusiaan di tengah keberagaman. Bagi masyarakat Muslim Reo, wakaf tersebut bukan hanya sebidang tanah, melainkan hadiah persaudaraan yang akan dikenang oleh generasi-generasi berikutnya. Di atas lahan itu kelak akan berdiri sebuah masjid yang tidak hanya menjadi tempat sujud kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi saksi bahwa harmoni lintas iman dapat tumbuh dengan indah di bumi Flores.
Dalam sambutannya, Direktur Utama IZI Wildhan Dewayana mengaku terkesan dengan potensi besar yang dimiliki Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Flores. “Selama ini banyak orang memiliki kesan bahwa NTT adalah wilayah yang kering dan kurang subur. Namun, setelah kami melihat langsung dan berkeliling di Flores, ternyata kami menemukan kenyataan yang berbeda. Alamnya indah dan subur, potensi lautnya sangat besar, begitu juga sektor peternakannya yang luar biasa. Banyak potensi yang sesungguhnya belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia,” ungkap Wildhan.

Menurutnya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Flores merupakan anugerah yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik, seiring dengan penguatan kualitas kehidupan masyarakat, termasuk dalam aspek keagamaan dan sosial. “Kami bersyukur dapat menjadi bagian dari pembangunan Masjid Nurul Hikmah ini. Semoga masjid yang akan dibangun ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Islam, tetapi juga menjadi pusat kebaikan yang memperkuat kehidupan beragama, mempererat persaudaraan, dan memperkokoh harmoni antarumat beragama yang selama ini sudah terjalin sangat baik di Reo,” lanjutnya.
Wildhan juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang mendukung pembangunan masjid, terutama kepada Leonardu Chandra yang telah mewakafkan tanahnya. “Ini adalah teladan yang sangat indah bagi bangsa Indonesia. Ketika seorang saudara kita yang berbeda keyakinan dengan tulus memberikan tanahnya untuk pembangunan masjid, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya sebuah bangunan fisik, tetapi juga jembatan persaudaraan, cinta kasih, dan kemanusiaan. Semoga semangat seperti ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi banyak daerah lainnya,” tambahnya.

Sementara itu, tokoh-tokoh agama dan masyarakat yang hadir menyampaikan harapan agar Masjid Nurul Hikmah menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan generasi muda, penguatan ukhuwah Islamiyah, sekaligus simbol kerukunan yang terus terjaga di Kecamatan Reok. Di tengah keterbatasan jumlah umat Muslim di wilayah tersebut, semangat kebersamaan tidak pernah surut. Dukungan tulus dari pemerintah kecamatan, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat menjadi energi besar bagi terwujudnya masjid yang selama ini diimpikan.
Batu pertama yang diletakkan hari itu menjadi lebih dari sekadar awal pembangunan fisik. Batu itu adalah simbol harapan, doa, dan persaudaraan yang ditanam bersama. Kelak, ketika azan berkumandang dari Masjid Nurul Hikmah, suara itu akan mengingatkan bahwa masjid ini dibangun bukan hanya oleh tangan-tangan kaum Muslimin, tetapi juga oleh ketulusan masyarakat yang memilih untuk saling menguatkan dalam keberagaman.
[Tim IZI di NTT – @inisiatifzakat]




